Reporter: Rilanda Virasma | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten produsen komponen kendaraan, PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM), membidik pertumbuhan pendapatan dan laba bersih di rentang single digit pada tahun 2026.
Kata Wakil Direktur Utama SMSM, Ang Andri Pribadi, target tersebut ditetapkan dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian global.
“Dengan mempertimbangkan kondisi pasar serta perkembangan dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian karena meningkatnya tensi geopolitik,” ucap Ang saat dihubungi Kontan, Rabu (7/1/2026).
Sebagai informasi, SMSM meraup pertumbuhan penjualan 2,65% secara tahunan (year on year/YoY) sebesar Rp 3,92 triliun hingga kuartal III-2025. Sejalan dengan itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk perseroan naik 13,50% YoY menjadi Rp 820 miliar.
Baca Juga: Ada Tekanan di Pasar Domestik, Kinerja Selamat Sempurna (SMSM) Masih Ditopang Ekspor
Untuk menggenjot kinerja di kuartal I tahun ini, SMSM, kata Ang, akan tetap fokus pada penguatan bisnis inti, yakni produk filter dan radiator, baik untuk segmen otomotif, heavy-duty, maupun industri.
Di samping itu, SMSM juga akan melanjutkan pengembangan produk non-engine seperti HVAC, peningkatan efisiensi operasional, optimalisasi kapasitas produksi, dan penguatan jaringan distribusi di pasar domestik dan internasional.
Pasar ekspor, lanjut Ang, akan tetap menjadi fokus utama pertumbuhan perseroan lewat pengembangan pasar eksisting. Namun tentu, upaya ini akan dilakukan dengan pertimbangan penuh akan stabilitas permintaan, kondisi ekonomi, dan kesesuaian dengan portofolio produk perseroan.
Info saja, pasar ekspor SMSM saat ini telah mencakup Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Thailand, Jepang, Prancis, Singapura, Uni Emirat Arab, Belgia, dan Jerman.
Hingga semester I-2025, ekspor ke AS masih mencatatkan nilai tertinggi, yakni Rp 273,85 miliar. Walau demikian, Ang menegaskan, produk ekspor perseroan tidak termasuk dalam daftar komoditas yang dikenakan tarif resiprokal AS.
Sebaliknya, produk-produk SMSM telah terlebih dahulu dikenakan tarif di bawah ketentuan Section 232 dengan besaran total tarif sebesar 27,5%.
Berdasarkan pedoman resmi dari U.S. Customs and Border Protection, barang yang telah termasuk dalam cakupan Section 232 dikecualikan dari pengenaan tarif balasan yang baru, sehingga produk ekspor SMSM tak terdampak tambahan beban tarif tersebut.
Namun, dengan mempertimbangkan tren historis kinerja ekspor dan tensi geopolitik di awal tahun ini, SMSM menaksir kinerja ekspornya belum akan tumbuh signifikan di kuartal I tahun ini.
“Hal tersebut sejalan dengan masih tingginya ketidakpastian ekonomi global di tengah eskalasi geopolitik,” kata Ang.
Untuk menyiasatinya, SMSM telah menyiapkan strategi utama, seperti diversifikasi produk dan pasar untuk mengurangi ketergantungan pada segmen tertentu serta pengendalian biaya dan peningkatan efisiensi produksi.
Selain itu, SMSM juga melakukan penguatan hubungan jangka panjang dengan pelanggan global seraya terus mengoptimalisasi rantai pasok dan manajemen risiko terhadap fluktuasi harga bahan baku dan nilai tukar.
Selanjutnya: Finnet Salurkan Bantuan Lebih dari Rp 180 Juta untuk Korban Bencana di Sumatra
Menarik Dibaca: KAI Layani 4,17 Juta Pelanggan Selama Nataru, 75% Tiket Dibeli Lewat Access by KAI
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













