Reporter: Dimas Andi | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), anak perusahaan PT Merdeka Copper Gold, Tbk (MDKA), merilis laporan kinerja keuangan terkonsolidasi untuk tahun buku berakhir pada 31 Desember 2025 yang mencerminkan kinerja keuangan yang tetap tangguh di tengah pelemahan harga nikel global.
MBMA membukukan pendapatan sebesar sekitar US$ 1,43 miliar atau turun 22,28% year on year (yoy) pada 2025.
Pada saat yang sama, MBMA mencatat EBITDA sebesar US$ 219 juta berkat dukungan peningkatan volume produksi nikel serta kontribusi yang solid dari operasi hilir. Hasil kinerja ini mencerminkan ketahanan operasional MBMA dalam menghadapi dinamika pasar komoditas.
MBMA mencatat kemajuan operasional yang kuat di seluruh rantai nilai nikel terintegrasi sepanjang 2025.
Tambang nikel Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) menjadi salah satu pendorong utama dengan peningkatan volume produksi yang signifikan, didukung oleh optimalisasi produktivitas dan efisiensi operasional.
Baca Juga: Pendapatan UBC Medical (LABS) Tembus Rp 199,29 Miliar, Laba Melonjak 357% pada 2025
Total produksi bijih saprolit MBMA mencapai 7 juta wet metric ton (wmt) dan limonit sebesar 14,7 juta wmt yang mendukung kebutuhan bahan baku bagi fasilitas hilir perusahaan serta memperkuat integrasi operasional.
Di sisi hilir, MBMA terus mengembangkan kapasitas pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah. Operasi hilir MBMA berhasil meningkatkan margin secara tahunan, didukung oleh biaya produksi yang lebih rendah dan peningkatan pasokan bijih internal.
Produksi Nickel Pig Iron (NPI) MBMA tercatat sebesar 73.871 ton pada 2025, sementara produksi High-Grade Nickel Matte (HGNM) mencapai sekitar 19.998 ton. Pengembangan proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) juga menunjukkan progres positif, dengan produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebesar sekitar 25.994 ton.
Selain itu, Proyek Acid Iron Metal (AIM) yang dioperasikan oleh PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI), anak usaha MBMA, empat fasilitas pengolahan yang terintegrasi penuh terus menunjukkan perkembangan yang konstruktif dan berada pada jalur yang tepat untuk mencapai produksi penuh.
Di tengah pelemahan harga nikel global sepanjang 2025, MBMA berhasil menjaga kinerja yang tahan banting melalui kombinasi peningkatan volume, efisiensi operasional, serta optimalisasi integrasi rantai nilai dari tambang hingga produk hilir.
MBMA juga secara disiplin mengelola struktur biaya di tengah kenaikan biaya operasional, termasuk dampak implementasi kebijakan bahan bakar biodiesel dan penyesuaian tarif royalti.
Baca Juga: Menteri Bahlil Mengungkap Potensi Danantara Membeli Gas Masela Melalui PGN
Memasuki 2026, MBMA berada pada posisi yang kuat untuk melanjutkan pertumbuhan, didukung oleh peningkatan volume produksi, efisiensi pengiriman bijih, serta percepatan pengembangan proyek hilirisasi dan integrasi vertikal.
Untuk 2026, MBMA menargetkan produksi 8-10 juta wmt bijih saprolit sementara produksi bijih limonit ditargetkan mencapai 20-25 juta wmt. Di sektor hilir nikel, produksi NPI ditargetkan antara 70.000-80.000 ton sementara HGNM sebesar 44.000-48.000 ton.
Selain itu, MBMA juga terus memperkuat struktur biaya operasional, termasuk penurunan biaya tunai NPI sebesar 9% yoy selama tahun 2025. MBMA memperkirakan efisiensi biaya lebih lanjut seiring dengan peningkatan pasokan saprolit SCM untuk mencapai swasembada bijih 100% pada tahun fiskal 2026.
Lebih lanjut, MBMA telah memulai pengoperasian Feed Preparation Plant (FPP) untuk mengirim slurry limonit melalui jalur pipa dari tambang SCM HPAL ke HPAL PT ESG New Energy Material guna meningkatkan efisiensi operasional. Hal ini mendukung target produksi MHP sebesar 27.000–30.000 ton pada 2026.
Sementara itu, proyek HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) dengan kapasitas terpasang sebesar 90.000 ton nikel per tahun terus berjalan sesuai rencana, dengan commissioning jalur pertama ditargetkan pada semester II-2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












