Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten komponen otomotif, PT Garuda Metalindo Tbk (BOLT) meraih kinerja keuangan yang memuaskan pada tiga bulan pertama tahun ini.
Berdasarkan laporan keuangannya, pada kuartal I-2026, pendapatan BOLT meningkat 14,6% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 423 miliar dari Rp 369 miliar pada tahun sebelumnya.
Dari lini bisnisnya, pertumbuhan pendapatan ditopang oleh pertumbuhan suku cadang otomotif yang menyumbang Rp 92 miliar, melonjak 220% dari kuartal I-2025 sebanyak Rp 29 miliar.
Baca Juga: Garuda Metalindo (BOLT) Incar Pasar Kendaraan Listrik, Begini Strateginya
Manajemen BOLT menilai capaian ini imbas perluasan basis pelanggan pasca konsolidasi dengan PT Garuda Metal Utama (GMU), serta meningkatnya eksposur perusahaan terhadap segmen kendaraan roda empat.
Adapun suku cadang sepeda motor masih menjadi kontributor utama dengan capaian Rp 128 miliar.
Meskipun lebih besar, raihan ini menurun dari Rp 132 miliar pada kuartal pertama tahun lalu. Pergerakan ini dinilai mencerminkan normalisasi permintaan pada awal tahun.
Lebih lanjut, manajemen BOLT mencatat pendapatan komponen kendaraan mencapai Rp 79 miliar pada kuartal pertama, turun 4,23% yoy dari Rp 82 miliar pada kuartal I-2025.
Penurunan kinerja secara tahunan ini dinilai masih terdampak oleh melemahnya permintaan pada beberapa kategori produk.
Sementara itu, pendapatan dari raw mats (steel wire) tercatat mencapai Rp 78 miliar pada kuartal I-2026, juga turun 5,97% yoy dari Rp 83 miliar.
"Namun ke depan, kam melihat peluang yang menjanjikan dari pendapatan terkait steel wire, termasuk potensi ekspor steel wire. Hal ini dapat mendukung basis pendapatan yang lebih luas serta memperkuat kontribusi pendapatan non-otomotif dan industri lainnya," papar manajemen BOLT dalam keterangan resmi, Selasa (12/5/2026).
Pun, peluang ini juga menurut manajemen BOLT sejalan dengan fokusnya untuk memperbaiki bauran pendapatan ke arah segmen dengan cakupan pasar yang lebih luas.
Baca Juga: BOLT Bidik Laba Naik 15% pada 2026, Genjot Ekspor ke AS dan Eropa
Lebih lanjut, pendapatan dari industri lainnya (others) mencapai Rp 16 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini, turun 3,04% yoy dari Rp 17 miliar.
Bagaimanapun, manajemen BOLT menilai segmen ini tetap menjadi platform diversifikasi jangka panjang yang penting. Terutama, didukung oleh peluang di sektor alat berat, infrastruktur, industri umum, dan produk aftermarket.
Jika menengok bottom line, laba bersih BOLT masih mampu melonjak 31,8% yoy ke Rp 34 miliar dari Rp 26 miliar.
"Kinerja ini didukung oleh pertumbuhan pendapatan, marjin bruto yang lebih kuat, efisiensi produksi yang berkelanjutan, serta pengendalian biaya yang disiplin," imbuh manajemen BOLT.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













