Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Intraco Penta Tbk (INTA) menyiapkan sejumlah strategi untuk mengejar pertumbuhan pendapatan dengan level dobel digit pada tahun 2026. INTA berupaya mendiversifikasi pasar penjualan alat berat sembari memacu pendapatan dari bisnis persewaan.
Direktur Intraco Penta, Willianto Febriansa mengungkapkan bahwa pada tahun ini INTA menargetkan pertumbuhan pendapatan antara 10% - 15% dibandingkan tahun 2025. Meski telah menyiapkan strategi untuk mencapai target tersebut, tapi INTA akan waspada menghadapi sejumlah tantangan yang mengiringi industri alat berat pada tahun ini.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah kebijakan pemerintah memangkas target volume produksi sejumlah komoditas tambang dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. INTA pun mengantisipasi langkah efisiensi yang kemungkinan dilakukan oleh para penambang di tengah pembatasan jumlah produksi.
Baca Juga: Geely Mulai Rakit Lokal EX2, TKDN Capai 46,5%
"Prospek bisnis alat berat pada tahun 2026 akan menantang dan Perusahaan dituntut untuk melakukan efisiensi di segala aspek. Perseroan berharap kebijakan dan rencana dari pemerintah (memangkas target produksi) ini dapat meningkatkan harga komoditas tambang dunia, terutama batubara dan nikel," kata Willianto saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (18/1/2026).
Sektor pertambangan masih menjadi pasar utama bagi bisnis alat berat INTA. Permintaan dari pelanggan di segmen batubara berkontribusi sekitar 63% terhadap pendapatan INTA. Disusul oleh nikel dengan kontribusi 14%, semen (9%), emas (5%), sektor kehutanan (4%) dan sektor lainnya (5%).
Menimbang porsi tersebut, INTA pun ingin memacu diversifikasi pasar untuk mengurangi ketergantungan sumber pendapatan dari segmen batubara. "Tahun ini Perseroan mencoba mengurangi porsi batubara dan mengembangkan sektor semen dan forestry, di samping sektor nikel dan emas yang sudah mulai menambah kontribusinya," ungkap Willianto.
Willianto belum membuka kinerja keuangan maupun realisasi penjualan alat berat INTA sepanjang tahun lalu. Dia hanya memberikan perkiraan bahwa realisasi penjualan INTA pada tahun 2025 akan stabil dibandingkan dengan 2024. "(Laporan) buku tahun 2025 sedang dalam proses audit," kata Willianto.
Hal yang pasti, INTA bakal memacu sumber pendapatan dari lini bisnis persewaan alat berat. Sekadar mengingatkan, pada tahun lalu INTA berhasil mendongkrak secara signifikan pendapatan dari segmen bisnis jasa persewaan.
Pendapatan INTA dari jasa persewaan meroket 4.836,79% secara tahunan dari Rp 3,18 miliar menjadi Rp 156,99 miliar hingga September 2025. "Peningkatan signifikan jasa persewaan terjadi karena adanya beberapa proyek rental dari pelanggan kami," ujar Willianto.
Dia optimistis bisnis persewaan alat berat dan truk akan kembali menjadi pendorong pertumbuhan INTA pada tahun ini. Willianto memproyeksikan bisnis persewaan alat berat dan truk akan kembali mendaki, sehingga bisa memberikan kontribusi sekitar 20% dari target pendapatan INTA pada tahun 2026.
Guna mencapai target tersebut, INTA menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 260 miliar. Sebagian besar dari anggaran capex INTA tahun ini akan digunakan sebagai pengadaan alat berat dan truk untuk bisnis persewaan.
Sebagai informasi, INTA merupakaan dealer untuk alat berat LiuGong, Doosan dan truk Sino Howo. Willianto mengatakan, aksi LiuGong yang sedang membangun fasilitas produksi alat berat di Indonesia bisa turut membawa dampak positif bagi INTA.
Adapun, LiuGong Indonesia sedang mendirikan pabrik alat berat di Karawang Barat. "Dampak pengoperasian pabrik LiuGong akan positif bagi perkembangan Perseroan karena dengan adanya pabrik ini maka ketersediaan stok alat berat dan parts akan sangat mendukung penjualan," ungkap Willianto.
Di sisi yang lain, INTA memiliki rencana untuk melakukan divestasi aset berupa gedung dan tanah yang saat ini menjadi kantor pusat yang berlokasi di area Cakung - Cilincing, Jakarta.
Strategi divestasi aset tersebut merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mempercepat pelunasan utang bank, sehingga posisi neraca keuangan INTA bisa menjadi lebih sehat.
Baca Juga: PetroChina Jabung Tancap Gas Pengeboran 2026
Selanjutnya: Strategi Stanley Tang: Rahasia DoorDash Kuasai Pasar Jasa Antar
Menarik Dibaca: Promo Superindo Hari Ini 19-22 Januari 2026, Sirup Marjan Beli 6 Hemat Banyak
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
