kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.822   -6,00   -0,04%
  • IDX 8.133   100,88   1,26%
  • KOMPAS100 1.146   14,31   1,26%
  • LQ45 828   7,29   0,89%
  • ISSI 288   4,65   1,64%
  • IDX30 431   4,00   0,94%
  • IDXHIDIV20 517   4,31   0,84%
  • IDX80 128   1,49   1,17%
  • IDXV30 141   1,36   0,97%
  • IDXQ30 140   1,18   0,85%

Survei KedaiKOPI: 25% Masyarakat Kelas Menengah Mengalami PHK


Selasa, 28 Oktober 2025 / 21:13 WIB
Survei KedaiKOPI: 25% Masyarakat Kelas Menengah Mengalami PHK
ILUSTRASI. Hasil survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), sebanyak 25% rumah tangga kelas menengah di Indonesia mengaku mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).


Reporter: Shintia Rahma Islamiati | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), sebanyak 25% rumah tangga kelas menengah di Indonesia mengaku mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

Peneliti Senior KedaiKOPI, Ashma Nur Afifa mengatakan angka tersebut menunjukkan bahwa 9% responden secara langsung terkena PHK, sementara 16% lainnya memiliki anggota keluarga yang kehilangan pekerjaan.

Menurut Ashma fenomena PHK ini mencerminkan penyempitan lapangan kerja di tengah melemahnya permintaan produksi. 

“Saya pikir jumlah lapangan pekerjaan yang menyempit bisa dipengaruhi banyak hal, tapi salah satunya karena demand produksinya yang menurun,” ujar Ashma dalam peluncuran Survei Pergeseran Perilaku Konsumsi dan Daya Beli Masyarakat Kelas Menengah di Jakarta, Selasa (28/10/2025).

Baca Juga: PHK Massal Hantui Industri Tekstil, Tertekan Produk Impor yang Lebih Murah

Dari kelompok yang terkena PHK, sebanyak 43,4% belum mendapatkan pekerjaan kembali setelah lebih dari enam bulan. Untuk bertahan, banyak di antara mereka yang terpaksa mengandalkan tabungan darurat guna menjaga konsumsi rumah tangganya.

Hasil survei juga menunjukkan bahwa pekerja informal lebih banyak terdampak PHK dibandingkan pekerja formal. Kondisi ini menandakan bahwa kelompok masyarakat kelas menengah yang bekerja di sektor informal semakin rentan terhadap guncangan ekonomi.

Ashma menilai, pemerintah perlu memberi perhatian lebih besar pada masyarakat kelas menengah, bukan hanya kelompok bawah. 

Baca Juga: Imbas Tarif Ekspor AS, Panca Mitra Multiperdana (PMMP) PHK Puluhan Karyawan

“Menjaga kualitas hidup itu jadi poin utama untuk masyarakat kelas menengah. Selama ini, bantuan pemerintah lebih banyak menyasar masyarakat berpenghasilan rendah,” kata dia.

Survei yang bertajuk Pergeseran Perilaku Konsumsi dan Daya Beli Masyarakat Kelas Menengah itu dilakukan pada 14–19 Oktober 2025 dengan metode Online-Computerized Assisted Self Interview (CASI). 

Survei melibatkan 932 responden WNI berusia 17–55 tahun dengan pendapatan antara Rp 3,5 juta hingga Rp 14,5 juta per bulan atau pengeluaran per kapita Rp 2 juta – Rp 9,9 juta per bulan.

Baca Juga: Ranperda Kawasan Tanpa Rokok DKI Picu Kekhawatiran PHK Massal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×