CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Tarif AS 19% Tekan Ekspor Furnitur RI, HIMKI Ungkap Dampaknya


Rabu, 18 Februari 2026 / 15:45 WIB
Tarif AS 19% Tekan Ekspor Furnitur RI, HIMKI Ungkap Dampaknya
ILUSTRASI. Tarif 19% AS memangkas keuntungan eksportir furnitur Indonesia. Pelajari segmen produk mana yang masih bisa bertahan dan bagaimana mengatasinya (Dok/Kemenperin)


Reporter: Vina Elvira | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan tarif 19% yang dikenakan Amerika Serikat (AS) terhadap produk furnitur asal Indonesia memberikan tekanan bagi pelaku industri mebel dan kerajinan nasional.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur menyatakan, tarif tersebut jelas menambah beban harga di titik masuk pasar AS sehingga melemahkan daya saing, terutama untuk produk mass market yang sensitif terhadap harga.

Namun untuk segmen mid–high, design-led, sustainable, dan custom, Indonesia masih punya ruang karena pembeli lebih menilai kualitas bahan, craftsmanship, konsistensi produksi, dan compliance (legal & sustainability).

Baca Juga: Ekspor Furnitur Tumbuh, Pelaku Industri Waspadai Banjir Produk Asing

“Tarif 19% ini sendiri merupakan hasil penurunan dari ancaman tarif lebih tinggi sebelumnya,” ungkap Abdul, kepada Kontan.co.id, Rabu (18/2/2026).

Pasar AS sendiri selama ini sangat dominan. Berdasarkan data yang dihimpun HIMKI, ekspor furnitur Indonesia periode Januari–November 2024 sekitar 53,6% terserap ke AS.

Pada semester I-2025, ekspor mebel dan kerajinan Indonesia diperkirakan mencapai US$1,5 miliar–US$1,7 miliar, dengan kontribusi ke AS sekitar US$0,8 miliar–US$0,9 miliar.

Dari sisi produk, furnitur kayu, rotan, outdoor furniture, serta produk dekorasi dan kerajinan terkait home living masih menjadi komoditas dominan ekspor Indonesia ke AS.

Lebih lanjut dia menuturkan, tekanan tarif ke AS tersebut berdampak langsung pada tergerusnya margin pelaku usaha dan renegosiasi harga.

Baca Juga: Peluang Bisnis Furnitur RI Masih Luas, Pangsa Pasar Global di Bawah 1%

Secara praktik, lanjutnya, beban tarif sering “dibagi” lewat kombinasi seperti penurunan harga ex-works/FOB dari pemasok, penyesuaian harga jual buyer, atau efisiensi di logistik & packaging.

“Risiko terbesar ada pada kontrak jangka pendek dan produk volume yang buyer sangat price sensitive. Pada sebagian kasus, order bisa ditahan atau diundur sambil menunggu kepastian mekanisme implementasi dan kalkulasi landed cost, lalu pindah ke komposisi produk yang lebih “value-added”,” jelasnya.

Menghadapi situasi ini, HIMKI mendorong paket dukungan kebijakan yang langsung menurunkan cost dan risk industri, mulai dari negosiasi implementasi tarif, pembiayaan ekspor berbunga kompetitif, insentif logistik, hingga penguatan produktivitas dan simplifikasi regulasi ekspor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×