kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Tarif Impor AS, Asioti Soroti Dampak ke Masa Depan Infrastruktur Digital Indonesia


Sabtu, 05 April 2025 / 15:03 WIB
Tarif Impor AS, Asioti Soroti Dampak ke Masa Depan Infrastruktur Digital Indonesia
ILUSTRASI. A 3D printed miniature model of U.S. President Donald Trump, U.S. flag, decreasing stock graph and word 'Tariffs' are seen in this illustration taken, April 4, 2025. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration


Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi memberlakukan tarif impor.  Asosiasi Internet of Things Indonesia (Asioti) menilai, kebijakan tersebut berpotensi menghambat pembangunan infrastruktur digital nasional dan memperlambat percepatan transformasi digital Indonesia secara menyeluruh.

Dengan lebih dari 210 juta pengguna internet, Indonesia kini sangat bergantung pada jaringan konektivitas yang luas dan berkualitas. Infrastruktur digital seperti jaringan 5G, fixed wireless access (FWA) dan sistem komunikasi satelit memainkan peran vital dalam mendorong pemerataan ekonomi digital di seluruh wilayah, termasuk daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).

Kebijakan tarif tersebut berdampak langsung terhadap ketersediaan perangkat keras dan komponen teknologi yang mayoritas masih tergantung pada rantai pasok global. Termasuk dari AS dan mitra yang terpengaruh.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, Indonesia mengalami surplus perdagangan US$ 14,34 miliar pada Januari-Desember 2024. Pada 2024, mesin dan perlengkapan elektronik menjadi produk yang paling banyak diekspor dari Indonesia ke AS. Nilai ekspor produk itu mencapai US$ 4,18 miliar.

Baca Juga: Inilah Daftar Lengkap Tarif Baru Trump yang Dikenakan pada Berbagai Negara

Ketua Umum Asioti Teguh Prasetya menyampaikan, kebijakan proteksionis ini tidak hanya mempengaruhi pelaku industri, tetapi juga memperlambat pengembangan teknologi. Seperti internet of things (IoT), cloud computing, big data, kecerdasan buatan (AI), hingga jaringan 5G yang menjadi tulang punggung transformasi digital Indonesia.

"Jika tidak diantisipasi, kita berisiko mengalami penurunan posisi dalam indeks broadband global yang saat ini sudah berada di bawah rata-rata negara-negara ASEAN," kata Teguh, dalam keterangan yang diterima Kontan.co.id, Sabtu (5/4). 

Menurut data terakhir Speedtest Global Index, posisi Indonesia dalam Global Broadband Index untuk kecepatan internet mobile masih tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia.

Indonesia berada di peringkat 103 dengan kecepatan rerata 20,17 Mbps, jauh dibandingkan Brunei di peringkat 16, Singapura peringkat 22, Malaysia peringkat 46, Vietnam peringkat 52, Thailand peringkat 54,  Laos peringkat 68, Myanmar peringkat 75, dan Filipina serta Kamboja masing-masing di peringkat 80 dan 96 dunia.

Tanpa penguatan infrastruktur digital, Indonesia akan semakin sulit mengejar ketertinggalan dan mewujudkan visi sebagai kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

Baca Juga: Daftar Barang yang Bakal Menguras Dompet Rakyat Amerika Akibat Kebijakan Tarif Trump

Selain itu, tensi geopolitik antara AS dan China turut mempersulit akses terhadap teknologi canggih dari kedua pihak. Padahal sebagian besar solusi digital dan IoT di Indonesia sangat bergantung pada produk dari dua negara tersebut. Hal ini menambah tantangan bagi Indonesia untuk menjaga kestabilan pembangunan teknologi nasional.

 Asioti tidak merekomendasikan penutupan impor dari AS sebagai solusi, mengingat pentingnya tetap menjaga akses terhadap teknologi global demi mendukung inovasi dan efisiensi nasional. Sebaliknya, ASIOTI mendorong pendekatan strategis melalui beberapa hal.

Yakni, lokalisasi produksi teknologi kunci, diversifikasi mitra teknologi global, perlindungan terhadap proyek infrastruktur 5G dan satelit, dukungan terhadap startup dan R&D teknologi nasional serta regulasi inklusif dan adaptif terhadap perkembangan digital

"Kita harus melihat krisis ini sebagai momentum untuk membangun ketahanan digital nasional. Kemandirian bukan berarti isolasi, melainkan kemampuan untuk tetap terhubung dengan dunia sambil memperkuat fondasi teknologi kita sendiri," imbuh Teguh.

Selanjutnya: Elon Musk Dikabarkan Akan Mengundurkan Diri dari Jabatannya di Pemerintahan Trump

Menarik Dibaca: Infinix Note 40 HP Keren dengan Spesifikasi Mantap, Cuma 2 Jutaan!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×