Reporter: Noverius Laoli, Gloria Haraito | Editor: Rizki Caturini
JAKARTA. Pengguna telepon seluler (ponsel) berbasis code division multiple access (CDMA) semakin membludak. The Nielsen Company Indonesia mencatat, sepanjang tahun lalu pertumbuhan pelanggan CDMA mencapai 420%.
Viraj Juthani, Direktur Telekomunikasi Nielsen, menjelaskan, pertumbuhan ini disebabkan oleh murahnya tarif CDMA. Ini membuat layanan CDMA bisa menjangkau segmen yang lebih luas, terutama menengah ke bawah. "Maka tak heran pertumbuhan CDMA disebabkan pertumbuhan pelanggan dari pekerja kerah biru, pelajar, dan ibu rumah," kata Viraj, Selasa (8/2).
Peningkatan pelanggan CDMA ikut mendorong peningkatan pasar ponsel secara keseluruhan. Sejak 2005 hingga 2010, penetrasi ponsel telah meningkat tiga kali lipat.
Nielsen mengadakan riset di sembilan kota dengan total populasi 45 juta penduduk. Dari jumlah itu, 54% di antaranya adalah pengguna ponsel.
Lembaga riset Frost & Sullivan juga pernah mendata, penetrasi kartu ponsel di Indonesia hingga akhir tahun lalu mencapai 236 juta pelanggan. Dengan rata-rata satu pelanggan memegang dua ponsel, dan penetrasi ponsel di Indonesia sudah mencapai 58% dari total penduduk yang sebanyak 240 juta jiwa.
Menurut Viraj, penetrasi ponsel yang begitu pesat membuat pasar ponsel di Indonesia berbeda dengan negara lain. Umumnya, industri telekomunikasi berkembang dari masyarakat tidak terhubung menjadi terhubung melalui telepon rumah, baru kemudian melalui ponsel. "Tapi di Indonesia berbeda. Masyarakat bergerak dari tidak terhubung, langsung menuju terhubung dengan ponsel," ujar Viraj. Ini membuat penetrasi telepon rumah tidak berkembang.
Makin murah
Menurut Viraj, murahnya tarif telekomunikasi membuat average revenue per user (ARPU) pelanggan ponsel semakin menurun. Data Nielsen juga menunjukkan, sebanyak 58% dari pelanggan ponsel mengeluarkan ARPU di bawah Rp 50.000. Padahal, di tahun 2005, ARPU di bawah Rp 50.000 cuma 18% dari total pelanggan.
Peningkatan pelanggan CDMA diakui PT Bakrie Telecom Tbk, operator Esia. A Noorman Iljas, Manajer Umum Komunikasi Bakrie Telecom, mengatakan, hingga September tahun lalu jumlah pelanggan Esia mencapai 12,1 juta pelanggan. "Jumlah ini meningkat signifikan dari pelanggan 2009 yang cuma 10,6 juta," kata Noorman.
Menurut Noorman, peningkatan pelanggan ini terutama dikarenakan tarif murah Esia. Esia menyediakan layanan suara dengan tarif Rp 1.000 per jam dan layanan pesan singkat dengan tarif Rp 1 per karakter. Esia juga merilis ponsel murah, di bawah Rp 200.000 per unit. Esia pun menawarkan layanan lain seperti nada sambung pribadi. Ke depan, Esia siap menggenjot penjualan ponsel media sosial.
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), operator Flexi juga berhasil menambah jumlah pelanggan CDMA-nya. Menurut Agina Siti Fatimah, Wakil Presiden Komunikasi dan Pemasaran Telkom, tahun lalu pelanggan Flexi mencapai 15 jut
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













