kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   15.000   0,55%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Tata Metal & Krakatau Steel (KRAS) Waspadai Dampak Pelemahan Rupiah ke Industri Baja


Jumat, 22 Mei 2026 / 14:39 WIB
Tata Metal & Krakatau Steel (KRAS) Waspadai Dampak Pelemahan Rupiah ke Industri Baja
ILUSTRASI. Pabrik baja PT Krakatau Steel Tbk (KRAS)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - BEKASI. Pelemahan nilai tukar rupiah masih menjadi tantangan bagi industri baja nasional, terutama bagi pelaku usaha yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Pelaku industri berharap langkah pemerintah dalam menata tata kelola ekspor dapat membantu memperkuat pasokan devisa dan menjaga stabilitas kurs rupiah.

Direktur Komersial PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) Hernowo mengungkapkan, industri baja masih membutuhkan campuran bahan baku impor untuk menjaga efisiensi produksi. Pasalnya, kadar kandungan besi dari bahan baku lokal belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan industri.

Baca Juga: Krakatau Steel (KRAS) Klaim Tata Kelola Ekspor Bisa untuk Jaga Kurs Rupiah

"Batu kita itu kandungan bajanya itu kira-kira 60-an lah sementara kalau pakai 60 nanti tidak efisien, sehingga kita harus mix dengan batu impor yang kandungannya mungkin 75%-80%," ujarnya di Bekasi, Jumat (22/5/2026).

Karena itu, kata Hernowo, fluktuasi nilai tukar rupiah sangat memengaruhi biaya produksi industri baja nasional. Apalagi sebagian transaksi bahan baku masih menggunakan mata uang asing.

Ia menilai, pemerintah tengah berupaya menata arus devisa hasil ekspor agar pergerakan valuta asing lebih terjaga dan dapat menopang penguatan rupiah. Salah satu opsi yang mencuat yakni pengaturan ekspor produk tertentu, termasuk komoditas alloy.

"Jadi pemerintah sepertinya ingin membantu pemain-pemain kayak kita yang sering transaksi dengan luar negeri dengan cara menata supaya kalau kita ekspor, ini exchange rate foreign currency yang masuk bisa tertata dengan bagus ya mudah-mudahan bisa memperkuat kembali nilai tukar rupiah," tandasnya.

Senada, VP Operations PT Tata Metal Lestari Stephanus Koeswandi mengatakan, pelemahan nilai tukar saat ini menjadi tantangan global yang memunculkan ketidakpastian bagi pelaku usaha.

Meski demikian, ia memastikan perusahaan tetap berupaya memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus meningkatkan ekspor untuk mendukung pasokan devisa nasional.

Baca Juga: Sokong Ketahanan Energi, PHE Pacu Strategi Dual Growth dan Bisnis Rendah Karbon

"Pertama kita pastikan kebutuhan dalam negeri terpenuhi terlebih dahulu kemudian yang kedua kita tingkatkan ekspor, supaya kita bisa bawa lagi dolar itu ke Indonesia supaya untuk meningkatkan devisa yang ada," ujar Stephanus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×