kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.819.000   -17.000   -0,93%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Terdampak virus corona, Ifishdeco (IFSH) buka peluang revisi target produksi nikel


Senin, 23 Maret 2020 / 16:37 WIB
Terdampak virus corona, Ifishdeco (IFSH) buka peluang revisi target produksi nikel
ILUSTRASI. Ilustrasi PT Ifishdeco Tbk (FISH) saat melakukan pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari

Dalam catatan Kontan.co.id, IFSH mematok target produksi ore nikel sebanyak 2,3 juta di tahun ini. Dengan target tersebut, IFSH membidik produksi ore sekitar 191.000 metrik ton per bulan.

IFSH juga memproduksi produk turunan nikel berupa Nikel Pig Iron (NPI) yang diolah oleh anak usahanya, PT Bintang Smelter Indonesia (BSI). Melihat kondisi saat ini, FISH mengaku bakal kesulitan untuk memenuhi target 46.200 ton NPI hingga akhir tahun 2020. Sebab, pengerjaan fasilitas blast furnance smelter BSI terhambat virus corona.

Christo mengatakan, jika penanganan virus corona bisa diselesaikan di bulan Maret atau pada bulan April tenaga kerja dan peralatan dari China sudah bisa masuk ke Indonesia, maka pengerjaan fasilitas blast furnance ditarget rampung pada pertengahan Mei.

Baca Juga: Corona ganjal bisnis nikel, Vale Indonesia (INCO) masih melihat perkembangan situasi

Dengan begitu, pada bulan Juni BSI bisa mulai menggenjot produksi NPI. Dalam perhitungannya, NPI yang bisa dihasilkan hingga akhir Desember 2020 kemungkinan hanya akan mencapai 29.400 ton.

Penurunan produksi dan penjualan ore nikel atau pun produk turunannya di dalam negeri memang telah diungkapkan oleh Asosiasi Penambangan Nikel Indonesia (APNI) dan Asosiasi Perusahaan Industri Pengolahan dan Pemurnian Indonesia (AP3I).

Hal senada juga disampaikan oleh praktisi tambang dan smelter Arif S. Tiammar. Di tengah kondisi ini, kata Arif, penurunan kapasitas produksi menjadi konsekuensi yang sulit untuk dihindarkan. "Dengan demikian, produksi bijih nikel dan turunannya akan lebih kecil dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu," sebut Arif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×