kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -12.000   -0,46%
  • USD/IDR 18.083   -13,00   -0,07%
  • IDX 6.091   -39,20   -0,64%
  • KOMPAS100 796   -3,58   -0,45%
  • LQ45 607   -1,51   -0,25%
  • ISSI 210   -1,41   -0,67%
  • IDX30 341   -0,73   -0,21%
  • IDXHIDIV20 422   -0,86   -0,20%
  • IDX80 91   -0,33   -0,36%
  • IDXV30 115   -0,50   -0,43%
  • IDXQ30 109   -0,23   -0,21%

Toyota Optimistis Penjualan Mobil Akan Membaik pada Semester II


Rabu, 29 Juli 2026 / 21:00 WIB
Toyota Optimistis Penjualan Mobil Akan Membaik pada Semester II
ILUSTRASI. Toyota Land Cruiser HEV di GIIAS 2026 (KONTAN/Hendra Suhara)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Toyota Astra Motor (TAM) memperkirakan penjualan mobil nasional akan membaik pada semester II-2026 seiring pola musiman yang selama ini menunjukkan peningkatan permintaan pada paruh kedua tahun. Meski demikian, perusahaan tetap mencermati sejumlah tantangan eksternal, mulai dari konflik geopolitik hingga pergerakan nilai tukar rupiah.

Vice President Director PT Toyota Astra Motor (TAM) Jap Ernando Demily mengatakan, secara historis penjualan otomotif pada semester kedua selalu lebih baik dibanding semester pertama.

"Kalau melihat trennya, biasanya semester dua akan membaik. Tentunya sebagai pelaku otomotif kita berharap tren market akan membaik," ujarnya di sela Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, Rabu (29/7).

Baca Juga: BLTZ Siapkan Ekspansi dan Diversifikasi Bisnis untuk Dorong Kinerja 2026

Meski optimistis, Toyota tetap berhati-hati karena masih terdapat sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat dan pasar otomotif nasional.

"Cuma kita tetap cermati karena masih ada beberapa ketidakpastian. Yang pertama perang Iran belum selesai, harga minyak masih naik turun. Lalu depresiasi rupiah juga hari ini menjadi salah satu tantangan," katanya.

Menurut Jap, untuk menjaga momentum pertumbuhan industri, diperlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, produsen otomotif hingga lembaga pembiayaan agar pasar dapat terus bertumbuh.

Meski menghadapi tantangan tersebut, Toyota masih meyakini target penjualan mobil nasional yang dipatok Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sebesar 850.000 unit hingga akhir tahun masih dapat dicapai.

"Yang itu masih angkanya 850.000 Kita masih percaya," ujarnya.

Dalam ajang GIIAS 2026, Toyota juga tidak memasang target khusus untuk surat pemesanan kendaraan (SPK). Perusahaan memilih memanfaatkan pameran sebagai sarana memperkenalkan produk baru sekaligus memperoleh masukan langsung dari konsumen.

"Setiap kali GIIAS kita tidak pernah punya target SPK. Yang pertama kami ingin menghadirkan produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan Indonesia. Kedua, GIIAS menjadi kesempatan yang baik untuk mendengar masukan dari pelanggan dan melihat preferensi pasar," kata Jap.

Pada GIIAS tahun ini, Toyota meluncurkan sejumlah model baru, antara lain Land Cruiser 300 Hybrid, bZ4X Touring, serta menampilkan Land Cruiser FJ dalam status preview. Menurut Jap, respons awal terhadap Land Cruiser FJ cukup positif, meski model tersebut belum dibuka untuk pemesanan.

"Sejauh ini kelihatannya sangat positif. Customer sudah banyak bertanya. Kami ingin melihat dulu respons market, setelah itu secepatnya akan kami luncurkan," ujarnya.

Selain prospek pasar secara keseluruhan, Toyota juga menyoroti segmen Low Cost Green Car (LCGC) yang masih memiliki peluang besar meski pertumbuhannya melambat dalam dua tahun terakhir.

Jap menilai perlambatan tersebut lebih dipengaruhi oleh melemahnya jumlah kelas menengah, yang selama ini menjadi kelompok pembeli pertama (first-time buyer).

"Mayoritas pembeli LCGC adalah first-time buyer. Ketika jumlah middle class tertekan, otomatis pembeli pertama juga ikut tertekan. Karena itu kami berharap pertumbuhan ekonomi bisa lebih baik sehingga jumlah kelas menengah kembali meningkat," katanya.

Meski demikian, Toyota melihat prospek jangka panjang segmen LCGC masih menjanjikan. Saat ini kontribusi LCGC terhadap pasar otomotif nasional masih berada di kisaran 12%, sementara tingkat kepemilikan mobil (motorization ratio) di Indonesia dinilai masih rendah sehingga ruang pertumbuhan tetap terbuka.

Di tengah semakin ketatnya persaingan, termasuk masuknya merek-merek baru dari China, Jap menilai kompetisi justru menjadi pendorong agar industri semakin berkembang.

"Kompetisi itu bagus karena memberikan lebih banyak pilihan kepada konsumen dan mendorong semua produsen menjadi lebih kreatif. Yang penting kompetisinya sehat dan memberikan nilai tambah bagi Indonesia," pungkasnya.

Baca Juga: GIIAS 2026 Dongkrak Penjualan Mobil, Gaikindo Optimistis Target 850.000 Unit Tercapai

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×