kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -8.000   -0,30%
  • USD/IDR 18.135   100,00   0,55%
  • IDX 5.912   39,07   0,67%
  • KOMPAS100 769   5,82   0,76%
  • LQ45 587   4,49   0,77%
  • ISSI 203   0,67   0,33%
  • IDX30 333   2,19   0,66%
  • IDXHIDIV20 411   0,93   0,23%
  • IDX80 88   0,82   0,94%
  • IDXV30 111   0,16   0,14%
  • IDXQ30 107   0,26   0,24%

Emiten FMCG Tetap Optimistis Hadapi Semester II-2026 Meski Daya Beli Melemah


Kamis, 09 Juli 2026 / 17:01 WIB
Emiten FMCG Tetap Optimistis Hadapi Semester II-2026 Meski Daya Beli Melemah
ILUSTRASI. Tiga raksasa FMCG hadapi semester II-2026 dengan optimisme di tengah badai.


Reporter: Vina Elvira | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah pelaku Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) masih optimisme menghadapi semester II-2026, meski berhadapan dengan tantangan berupa inflasi yang meningkat, pelemahan daya beli masyarakat, kenaikan biaya logistik, hingga fluktuasi harga bahan baku.

Lihat saja PT Mayora Indah Tbk (MYOR) yang mengatakan, hingga awal paruh kedua tahun ini pihaknya belum melihat perubahan tren permintaan yang berarti dibandingkan dengan semester I-2026.

Namun, perusahaan mengakui adanya tekanan terhadap daya beli yang membuat konsumen semakin sensitif terhadap harga dan mengubah pola pembelian. Oleh sebab itu, pihaknya mengantisipasi kondisi tersebut dengan menetapkan strategi untuk menjual lebih banyak produk single pack.

"Pada umumnya tekanan daya beli ini membuat konsumen lebih sensitif terhadap harga dan dapat mengubah preferensi konsumen, mereka condong untuk membeli produk-produk single pack dengan harga yang lebih terjangkau," ujar manajemen Mayora kepada Kontan.co.id, Senin (6/7/2026).

Baca Juga: Agrinas Palma Catat Surplus Rp 2,86 Triliun dari Pengelolaan Aset Perkebunan Negara

Sejalan dengan kondisi tersebut, Mayora Indah belum mengubah target kinerja yang telah ditetapkan sejak awal tahun. Manajemen masih mempertahankan guidance penjualan maupun laba untuk 2026.

Apabila merujuk pemberitaan sebelumnya, MYOR mematok target penjualan sebesar Rp 41,85 triliun dengan laba bersih sebesar Rp 3,41 triliun di sepanjang 2026.

Dari sisi strategi, MYOR memilih mempertahankan harga jual di tengah meningkatnya sensitivitas konsumen terhadap harga. Kebijakan tersebut didukung oleh kondisi harga bahan baku yang saat ini relatif lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

Menurut pemaparan manajemen, saat ini kondisi harga bahan baku masih memberikan ruang yang positif terhadap kinerja margin. Seperti harga kakao misalnya, memang saat ini (per Juni 2026) mengalami kenaikan karena curah hujan yang tinggi yang menyebabkan kuantitas panen berkurang.

Senada, PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) juga masih mempertahankan optimisme terhadap prospek bisnis pada semester II-2026 di tengah tantangan berupa kenaikan inflasi, pelemahan daya beli masyarakat, hingga kenaikan biaya bahan baku.

Corporate Secretary Mandom Indonesia Alia Dewi mengatakan, hingga saat ini perusahaan belum melihat perubahan signifikan pada tren permintaan dibandingkan semester pertama. Namun, ia mengakui perilaku konsumen kini semakin selektif dalam berbelanja.

"Sejauh ini tren permintaan masih cukup baik tapi kami menyadari tantangan persaingan pasar yang juga semakin ketat dan konsumen yang semakin price sensitive," ujar Alia.

Untuk menjaga kinerja penjualan dan profitabilitas pada sisa 2026, TCID menyiapkan sejumlah strategi operasional, mulai dari fokus pada produk-produk dengan perputaran cepat, memastikan ketersediaan stok, hingga efisiensi biaya.

Baca Juga: Samindo (MYOH) Raih Kenaikan Volume Overburden & Produksi Batubara di Semester I-2026

Di sisi lain, perusahaan juga tetap aktif menjalankan berbagai kegiatan promosi, baik secara daring maupun luring.

"Kami tetap memonitor kenaikan biaya dan penerapan kenaikan harga oleh pasar sebagai pertimbangan penetapan kenaikan harga," ungkapnya.

Terkait alokasi belanja modal atau capex pada tahun ini difokuskan untuk kebutuhan operasional dan pemeliharaan sehingga realisasinya masih berjalan sesuai rencana. Namun, manajemen tidak memerinci besaran anggaran capex tahun 2026.

Sementara itu, PT Multi Indocitra Tbk (MICE) membidik pertumbuhan pendapatan atau top line pada level high single digit sepanjang tahun 2026.

Direktur Utama Multi Indocitra Anthony Honoris mengatakan, di tengah berbagai tantangan yang muncul sejak awal tahun, perusahaan mengupayakan agar profitabilitas tahun ini dapat dipertahankan setidaknya setara dengan capaian tahun sebelumnya.

Memasuki kuartal II-2026, perseroan menilai tantangan industri masih cukup besar. Kenaikan harga bahan baku, penurunan daya beli, hingga kenaikan biaya logistik menjadi perhatian utama perusahaan, mengingat bisnis utama perseroan bergerak di sektor distribusi.

 

Untuk dapat mempertahankan profitabilitas ke depan, MICE mulai mengambil langkah lebih selektif, termasuk melakukan penyesuaian harga pada sejumlah kategori produk guna menjaga kesehatan bisnis.

Meski begitu, manajemen menegaskan pertumbuhan pendapatan tetap menjadi prioritas utama. Namun, manajemen tidak ingin mengejar pertumbuhan penjualan apabila harus mengorbankan profitabilitas secara berlebihan.

"Second half juga unpredictable karena geopolitik dan lainnya termasuk kebijakan yg sering berubah last minute. Tapi kami yakin target high single digit untuk top line masih reachable dan visible untuk kami raih," tegas Anthony.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×