Reporter: Prayogi Ikhrawinata | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) menargetkan divestasi aset senilai Rp 5,5 triliun secara bertahap pada 2026–2028. Dana hasil divestasi akan digunakan untuk mempercepat pembayaran kewajiban kepada kreditur perbankan serta pemegang obligasi dan surat utang, sekaligus mendukung restrukturisasi keuangan.
Pada 2026, WIKA menargetkan divestasi sekitar Rp 1,9 triliun yang mencakup PT Jalantol Lingkarluar Jakarta (JJC), pengelola tol JORR, PT Jasamarga Manado Bitung (JMB), serta sejumlah aset di Cilacap/Laswi dan konsorsium Pelabuhan Mabar/Patimban.
Sementara pada 2027, target divestasi sekitar Rp 276 miliar berasal dari sejumlah aset anak usaha di sektor energi/hidro, perhotelan seperti WR Hotel Khas, dan WTON. Pelepasan aset lainnya akan dilanjutkan pada 2028.
Baca Juga: Central Omega Resources (DKFT) Pasang PLTS di Tambang Nikel Morowali Utara
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, minat investor terhadap aset yang dilepas akan bergantung pada kualitas aset, kemampuan menghasilkan arus kas, serta prospek pendapatan dalam jangka panjang.
Aset infrastruktur yang telah beroperasi dan menghasilkan pendapatan berulang dinilai memiliki daya tarik lebih tinggi bagi investor strategis maupun finansial. Investor juga akan mempertimbangkan tingkat utilisasi, kualitas aset, sisa masa konsesi, tingkat leverage, valuasi, serta potensi sinergi dengan bisnis yang telah dimiliki.
“Aset yang dapat memberikan kepastian cash flow kemungkinan memiliki daya tarik lebih tinggi dibandingkan aset yang masih membutuhkan belanja modal besar,” kata Nafan kepada Kontan, Senin (5/10/2026).
Menurut Nafan, target divestasi sekitar Rp 5,5 triliun hingga 2028 masih realistis untuk dikejar. Namun, realisasinya akan bergantung pada kualitas aset yang dilepas, kondisi pasar, valuasi, serta kemampuan WIKA menemukan pembeli strategis.
Risiko utama dalam proses tersebut bukan hanya kemampuan menjual aset, tetapi juga memperoleh harga yang tidak terlalu jauh di bawah nilai wajarnya. Kondisi keuangan WIKA yang masih membutuhkan penguatan likuiditas dan penurunan utang dapat menjadi tantangan bagi perusahaan untuk mendapatkan harga optimal.
Baca Juga: CNG Untuk Tekan Impor LPG Terus Dievaluasi, Begini Progresnya
“Risiko utamanya bukan hanya apakah aset tersebut dapat dijual, tetapi apakah divestasi dapat dilakukan pada valuasi yang tidak terlalu jauh di bawah nilai wajarnya,” ujarnya.
Di sisi lain, dana hasil divestasi sebesar Rp 5,5 triliun dinilai cukup signifikan untuk membantu memperbaiki kondisi keuangan WIKA. Nafan menilai dampaknya akan lebih optimal jika dana tersebut digunakan untuk mengurangi utang, memperbaiki struktur permodalan, dan menekan beban bunga.
“Ukuran keberhasilannya bukan semata-mata jumlah dana yang diperoleh, melainkan seberapa besar penurunan leverage dan beban finansial setelah transaksi,” katanya.
Meski demikian, divestasi juga memiliki konsekuensi terhadap kinerja WIKA ke depan. Penjualan aset produktif dapat memperkuat likuiditas dan memperbaiki neraca, tetapi berpotensi mengurangi basis pendapatan serta recurring income.
Nafan juga menilai, investor perlu mencermati penggunaan dana hasil divestasi, harga transaksi dibandingkan dengan nilai wajar aset, serta dampaknya terhadap utang dan beban bunga. Divestasi akan lebih positif bagi WIKA jika menjadi bagian dari upaya restrukturisasi dan penurunan utang, bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














