kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.480   -50,00   -0,29%
  • IDX 6.746   -113,34   -1,65%
  • KOMPAS100 898   -18,20   -1,99%
  • LQ45 660   -10,14   -1,51%
  • ISSI 244   -3,72   -1,50%
  • IDX30 373   -4,24   -1,13%
  • IDXHIDIV20 456   -5,60   -1,21%
  • IDX80 102   -1,70   -1,63%
  • IDXV30 130   -1,66   -1,26%
  • IDXQ30 119   -1,18   -0,98%

Ada skema neoliberal di tata kelola migas ?


Sabtu, 15 November 2014 / 21:03 WIB
ILUSTRASI. 5 Bahan Pemanis Kopi yang Lebih Sehat dari Gula Pasir.


Sumber: TribunNews.com | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Direktur Global Future Institute (GFI) Hendrajit menyebut bahwa skema ekonomi neoliberal secara sistematis dan terencana dijabarkan dalam tata kelola migas Indonesia termasuk di dalam tubuh Pertamina.

"Menelisik skenario Menteri BUMN Rini Soemarno, nampaknya agenda privatisasi Pertamina akan menjadi prioritas dalam rangka meliberalisasikan sektor hilir dan untuk mendukung skema ini, maka dari itu tugas utama Dirut Pertamina yang baru nantinya," kata Hendrajit dalam diskusi terbuka di Jakarta, Sabtu (15/11).

Menurutnya, Presiden Jokowi belum mengetahui bahwa Rini melakukan seleksi terhadap calon Direksi dan komisaris PT Pertamina.

"Seharusnya Rini menanyakan apakah Presiden setuju dengan calon calon ini? Apakah Presiden punya calon?," ujarnya.

Ia mengungkapkan, sebaliknya Rini justru mengusulkan Presiden agar menandatangani Keputusan Presiden yang isinya untuk pemilihan dan penetapan direksi BUMN cukup  dilaksanakan sepenuhnya oleh Menteri BUMN.

"Untungnya Jokowi tidak menandatangani SK tersebut karena dicegah oleh Mensesneg. Karena seharusnya untuk BUMN strategis yang jumlahnya 25 mutlak Presiden yang menetapkan, memilih dan menunjuk direksi dan komisaris tersebut," ucapnya.

Hingga berita diturunkan belum diperoleh klarifikasi dari pihak-pihak yang disebutkan. (Wahyu Aji) 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×