kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.135.000   50.000   1,62%
  • USD/IDR 16.894   85,00   0,51%
  • IDX 8.017   -218,65   -2,65%
  • KOMPAS100 1.125   -31,30   -2,71%
  • LQ45 812   -21,87   -2,62%
  • ISSI 286   -6,72   -2,30%
  • IDX30 429   -10,83   -2,46%
  • IDXHIDIV20 517   -9,75   -1,85%
  • IDX80 126   -2,90   -2,25%
  • IDXV30 141   -2,38   -1,66%
  • IDXQ30 138   -3,69   -2,61%

Apindo Dorong Pemerintah Kaji Ulang Pemangkasan RKAB Tambang Tahun Ini


Senin, 02 Maret 2026 / 20:57 WIB
Apindo Dorong Pemerintah Kaji Ulang Pemangkasan RKAB Tambang Tahun Ini


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mendorong pemerintah untuk mengkaji ulang target pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sektor pertambangan, termasuk batubara dan nikel untuk tahun produksi 2026.

Ketua Komite Pertambangan Minerba bidang Energi, Sumber Daya Mineral (ESDM) Dewan Pengurus Nasional APINDO Hendra S. Sinadia mengatakan, pihaknya memahami tujuan kebijakan tersebut untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen nikel dan eksportir batubara terbesar dunia serta menjaga harga global.

Baca Juga: Industri Petrokimia Hitung Dampak Perang Iran & Cari Alternatif Pasokan Bahan Baku

“Berdasarkan pandangan pemerintah melalui Kemenko Perekonomian maupun Dewan Ekonomi Nasional, tujuan kebijakan produksi 2026 adalah memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen nikel dan eksportir batubara terbesar,” ujar Hendra dalam agenda APINDO di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Namun demikian, APINDO menilai kebijakan pemangkasan produksi tidak bisa dilihat semata dari sisi strategi global dan harga komoditas.

Dampak spesifik terhadap masing-masing perusahaan perlu menjadi perhatian serius.

Saat ini, informasi yang beredar menunjukkan variasi pemotongan produksi yang cukup besar. Pada komoditas nikel, pemangkasan berkisar 20% hingga 50%.

Sementara pada batubara, ada perusahaan yang produksinya tetap disetujui, namun ada pula yang dipangkas hingga 50% bahkan 70%–80%.

Baca Juga: Ekspansi Bisnis, United Bike Menggarap Pasar Sepeda Anak-Anak

Khawatir Dampak Sosial dan Ketenagakerjaan

APINDO mengkhawatirkan dampak individual terhadap perusahaan, khususnya terhadap tenaga kerja yang bergantung pada operasional tambang.

Sebagai perwakilan resmi pelaku usaha dalam dialog dengan serikat pekerja, APINDO menempatkan isu sosial dan ketenagakerjaan sebagai perhatian utama.

Jika pemotongan produksi berlangsung berkelanjutan, dampaknya dinilai akan terasa pada lapangan kerja serta program sosial kemasyarakatan yang dijalankan perusahaan.

“Pertumbuhan ekonomi kita sedang dalam kondisi yang sangat menantang. Karena itu, potensi dampak sosial dari kebijakan ini perlu diperhitungkan,” jelas Hendra.

Pemangkasan RKAB juga diperkirakan berdampak pada penerimaan dan anggaran daerah, terutama di wilayah penghasil batubara seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, serta Sumatera Selatan dan sejumlah daerah lain di Sumatera.

Baca Juga: RKAB Dipangkas, Industri Smelter Hadapi Gap Pasokan Nikel Hingga 100 Juta Ton

Berpotensi Ganggu Pasokan Listrik

Secara teknis, pembatasan produksi juga berisiko memengaruhi berbagai aspek operasional, mulai dari kegiatan reklamasi pascatambang, pengurangan stripping ratio, keterlambatan pembayaran vendor, hingga pengurangan program sosial perusahaan.

Hendra menyebut, dalam jangka pendek perusahaan kemungkinan masih berupaya menahan dampak terhadap tenaga kerja, terutama menjelang Hari Raya Lebaran.

Namun jika kebijakan ini berlanjut, bukan tidak mungkin sejumlah perusahaan akan mempertimbangkan opsi merumahkan karyawan sebagai bagian dari langkah efisiensi operasional.

Selain itu, APINDO juga menyoroti potensi gangguan pasokan batubara untuk kebutuhan dalam negeri, khususnya sektor kelistrikan. Kekhawatiran serupa sebelumnya juga disampaikan Asosiasi Pembangkit Listrik Swasta (APLSI).

Tahun lalu, konsumsi Domestic Market Obligation (DMO) mencapai sekitar 254 juta ton dan diperkirakan meningkat menjadi 260–270 juta ton tahun ini.

Namun dengan adanya pemotongan produksi, perusahaan dinilai cenderung memaksimalkan ekspor untuk menjaga pendapatan, sehingga berpotensi menekan pasokan domestik.

Baca Juga: KAI Divre III Palembang Sebut 83.346 Tiket Ludes Terjual pada Periode Lebaran 2026

Harga DMO Perlu Ditinjau Ulang

APINDO juga meminta pemerintah meninjau kembali harga batubara DMO untuk kelistrikan yang masih dipatok sebesar US$70 per ton sejak 2018. Sementara itu, biaya operasional perusahaan terus meningkat.

Meski memahami tujuan stabilisasi tarif listrik, pelaku usaha berharap pemerintah turut mempertimbangkan keberlanjutan bisnis, terlebih jika porsi DMO dinaikkan hingga 30%. Saat ini saja, realisasi DMO di lapangan disebut sudah melampaui 30%.

“Kami melihat pengaturan produksi adalah kewenangan pemerintah sebagai regulator. Namun kami berharap dampak di tingkat bawah dan potensi dampak sosialnya benar-benar diperhatikan secara serius,” pungkas Hendra.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Procurement Strategies for Competitive Advantage (PSCA) AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×