Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha dan Pengolahan Daging Indonesia (APPDI), Teguh Boediyana, mengkhawatirkan pasokan daging impor yang telah menipis belakangan ini. Pihaknya kemudian mendesak pemerintah supaya segera menerbitkan izin kuota impor daging sapi reguler sebanyak 100 ribu ton yang masih tertahan di pemerintah.
Menurutnya, pasokan daging impor yang ada saat ini, sebanyak 80 ribu ton yang telah direalisasikan beberapa waktu lalu, mulai menipis.
“Ini kami batasi sampai lebaran, tidak ada masalah. Tapi pasca lebaran ini yang merisaukan kami,” ungkap Teguh kepada Kontan, Selasa (25/3)
Menurutnya saat ini pasokan impor sebelumnya yang totalnya 80 ribu ton akan mencukupi hanya sampai bulan Mei. Sehingga, jika pemerintah tidak segera memberikan izin impor, dikhawatirkan ini akan menentukan keberlanjutan pengusaha daging.
Baca Juga: APPDI: Kuota Impor 80 Ribu Ton Daging Sapi untuk Pengusaha Sudah Banjiri Pasar
Sebab, pelaku usaha biasanya akan melakukan rancangan dan plan bisnis untuk jangka waktu satu tahun. Namun, akhirnya perencanaan itu masih tersendat oleh kepastian perizinan kuota impor ini.
“Apa yang terjadi nanti kalau pemerintah tidak segera. Perusahaan kan punya plan. Yang dikhawatirkan akan terjadi pekerja ini kalau tidak mendapatkan itu ya akhirnya PHK, efisiensi. Ini kan menambah masalah pemerintah kan,” tambah Teguh.
Dari situ, Teguh menjelaskan bahwa pihaknya tidak tahu alasan belum direalisasikannya izin impor 100 ribu ton ini. Namun, Ia berharap supaya pemerintah bisa segera menerbitkan perizinan tersebut.
“Pengusaha hanya bisa berharap, mengimbau. Kewenangan tetap di tangan pemerintah. Kami minta pemerintah wise, bijak, untuk melihat permasalahan yang ada oleh pengusaha ini di lapangan,” pungkasnya.
Baca Juga: Ketua JAPPDI Sebut Pasokan Daging Lebaran Aman Meski Harga Tidak Bersahabat
Selanjutnya: Sebulan Harga Emas Antam Naik 3,05 Persen, Hari Ini Turun (25 Maret 2025)
Menarik Dibaca: 8 Cara Menghadapi Anak Remaja yang Keras Kepala, Hindari Ultimatum!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News