kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

APSYFI bicara soal importasi tekstil China


Selasa, 13 Agustus 2019 / 21:33 WIB

APSYFI bicara soal importasi tekstil China
ILUSTRASI. INDUSTRI TEKSTIL

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Komposisi impotasi tekstil yang masuk ke Indonesia sebagian besar didominasi oleh tekstil yang berasal dari Cina. Meski begitu, Asosiasi Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSYFI) menilai bahwa importasi tekstil yang berasal dari Cina tergolong sebagai bentuk importasi yang tidak perlu.

Menurut Executive Member APSYFI, Prama Yudha Amdan, importasi yang dibutuhkan setidaknya memiliki tiga kriteria. Pertama, produk yang diimpor memang dibutuhkan untuk keperluan research and development (RnD).

Baca Juga: Ini pandangan APSYFI soal Bea Masuk Antidumping untuk industri tekstil

Selanjutnya, produk yang diimpor memang tidak tersedia ataupun belum terpenuhi kebutuhannya di dalam negeri. Terakhir, produk yang diimpor juga dibutuhkan untuk pengembangan produk-produk yang memiliki nilai tambah.

Dalam hal ini, Yudha menilai bahwa importasi tekstil yang masuk dari Cina tidak memenuhi ketiga kriteria di atas sehingga dianggap sebagai impor yang tidak perlu.
“Kapasitas domestiknya ada, produksinya ada, suplai-nya ada tapi kita tetap impor, jadi mengganggu pasar yang sudah diisi oleh produksi dalam negeri,” ujar Yudha kepada Kontan (13/08).

Padalah, importasi dari Cina memiliki porsi yang besar dalam volume importasi tekstil yang masuk ke Indonesia. importasi tekstil yang masuk berasal dari Cina dengan persentase lebih dari 60%. Sementara itu, sekitar kurang dari 40% sisanya berasal dari negara-negara pengimpor lain seperti Korea, India, dan Jepang.

Adapun tekstil yang diimpor meliputi polyester filament yarn seperti spin draw yarn (SDY) dan partially oriented yarn (POY), polyester staple fiber, benang, greige (kain mentah), dan lain-lain. Produk-produk ini pada umumnya diserap oleh industri-industri tengah seperti pembuatan kain dan pencampuran benang.

Dari segi harga, tekstil yang diimpor dari Cina memang memiliki keunggulan. Berdasarkan keterangan Yudha, tekstil yang diimpor dari Cina bisa memiliki harga lebih murah sebesar 20%-25% bila dibandingkan dengan harga yang dimiliki oleh tekstil dalam negeri.

Hal ini juga sekaligus diduga sebagai salah satu faktor yang mendorong tingginya impor untuk industri tekstil pada kurun waktu Januari hingga Mei 2019 silam.
Sebagai catatan, industri TPT secara keseluruhan sebenarnya masih mengalami surplus sekitar US$ 2,13 miliar. Besaran capaian ini sebenarnya bertumbuh sebesar 10,23% bila dibandingkan tahun sebelumnya, yakni US$ 1,93 miliar.

Capaian ini ditopang oleh neraca dagang industri pakaian jadi yang mengalami surplus sebesar US$ 3,18 miliar. Meski demikian, industri tekstil tercatat masih mengalami defisit sebesar US$ 1,05 miliar dengan rincian impor sebesar US$ 3,12 miliar dan ekspor sebesar US$ 2,07 miliar.


Reporter: Muhammad Julian
Editor: Azis Husaini
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0012 || diagnostic_api_kanan = 0.0004 || diagnostic_web = 0.1937

Close [X]
×