kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.504.000   16.000   0,64%
  • USD/IDR 16.740   33,00   0,20%
  • IDX 8.748   101,19   1,17%
  • KOMPAS100 1.205   11,60   0,97%
  • LQ45 852   5,43   0,64%
  • ISSI 315   6,02   1,95%
  • IDX30 439   1,60   0,37%
  • IDXHIDIV20 511   1,24   0,24%
  • IDX80 134   1,29   0,97%
  • IDXV30 140   1,02   0,73%
  • IDXQ30 140   0,22   0,15%

ApsyFi: Tanpa Perlindungan Pasar Domestik, Industri TPT Terancam pada 2026


Jumat, 02 Januari 2026 / 17:03 WIB
ApsyFi: Tanpa Perlindungan Pasar Domestik, Industri TPT Terancam pada 2026
ILUSTRASI. Alumninya Langsung Kerja, AK-Tekstil Solo Siap Bangkitkan Kinerja Industri TPT (Dok/Kemenperin) Industri tekstil dan produk tekstil nasional masih mencatatkan pertumbuhan sepanjang 2025, namun diiringi tekanan struktural yang kian berat. ?


Reporter: Vina Elvira | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional masih mencatatkan pertumbuhan sepanjang 2025, namun diiringi tekanan struktural yang kian berat. 

Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (ApsyFi) menilai, prospek industri TPT di 2026 akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah mengamankan pasar domestik di tengah lonjakan impor dan perubahan peta persaingan global.

Ketua Umum ApsyFi Redma Gita mengatakan, secara angka statistik industri TPT  masih tumbuh dengan estimasi sekitar 4%. Namun, pertumbuhan tersebut belum mampu mengangkat kembali kontribusi industri tekstil terhadap perekonomian nasional.

Redma memperkirakan kontribusi subsektor tekstil terhadap PDB manufaktur pada 2025 masih berada di kisaran 0,9%, melanjutkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. 

Baca Juga: Sido Muncul (SIDO) bidik pertumbuhan kinerja 8% pada 2026, intip strateginya

“Meski pertumbuhan ini masih debatable karena data impor ilegal yang tidak ter-capture dan investasi yang masuk juga belum terutilize,” ujar Redma, kepada Kontan.co.id, Selasa (30/12). 

Menurut ApsyFi, tekanan utama yang dirasakan pelaku industri sepanjang 2025 berasal dari sisi impor. Redma menilai pemerintah belum mampu mengendalikan arus barang masuk, baik ilegal maupun legal, terutama untuk produk benang dan kain 

“Kedua jenis impor ini masuk dengan harga murah dumping, dan pemerintah sama sekali tidak menghiraukannya seakan masih sangat pro barang impor tanpa memperhatikan industri dalam negerinya,” tegas Redma.

Dari sisi permintaan, kondisi pasar domestik dinilai relatif stabil meskipun terdapat tanda pelemahan daya beli. Namun, stabilitas tersebut tidak sepenuhnya dinikmati oleh industri dalam negeri. 

Sementara itu, permintaan ekspor produk tekstil masih cukup baik. Meski demikian, kebijakan tarif Amerika Serikat menjadi faktor pengubah peta persaingan global yang harus diantisipasi. 

Memasuki 2026, ApsyFi menilai tantangan industri TPT akan semakin besar. Ketidakpastian global, terutama dampak lanjutan kebijakan tarif AS, berpotensi menekan daya saing industri nasional.

Dalam kondisi tersebut, pasar domestik menjadi tumpuan utama. Ia juga mengingatkan, tanpa perlindungan serius terhadap pasar dalam negeri, risiko penutupan pabrik dan tertahannya investasi akan semakin tinggi. 

Baca Juga: PGN Pasok Gas Bumi untuk Sektor Industri di Lamongan

Selanjutnya: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Sabtu 3 Januari 2026: Fokus Persiapan

Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Sabtu 3 Januari 2026: Fokus Persiapan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×