Reporter: Vina Elvira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional masih mencatatkan pertumbuhan sepanjang 2025, namun diiringi tekanan struktural yang kian berat.
Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (ApsyFi) menilai, prospek industri TPT di 2026 akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah mengamankan pasar domestik di tengah lonjakan impor dan perubahan peta persaingan global.
Ketua Umum ApsyFi Redma Gita mengatakan, secara angka statistik industri TPT masih tumbuh dengan estimasi sekitar 4%. Namun, pertumbuhan tersebut belum mampu mengangkat kembali kontribusi industri tekstil terhadap perekonomian nasional.
Redma memperkirakan kontribusi subsektor tekstil terhadap PDB manufaktur pada 2025 masih berada di kisaran 0,9%, melanjutkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Sido Muncul (SIDO) bidik pertumbuhan kinerja 8% pada 2026, intip strateginya
“Meski pertumbuhan ini masih debatable karena data impor ilegal yang tidak ter-capture dan investasi yang masuk juga belum terutilize,” ujar Redma, kepada Kontan.co.id, Selasa (30/12).
Menurut ApsyFi, tekanan utama yang dirasakan pelaku industri sepanjang 2025 berasal dari sisi impor. Redma menilai pemerintah belum mampu mengendalikan arus barang masuk, baik ilegal maupun legal, terutama untuk produk benang dan kain
“Kedua jenis impor ini masuk dengan harga murah dumping, dan pemerintah sama sekali tidak menghiraukannya seakan masih sangat pro barang impor tanpa memperhatikan industri dalam negerinya,” tegas Redma.
Dari sisi permintaan, kondisi pasar domestik dinilai relatif stabil meskipun terdapat tanda pelemahan daya beli. Namun, stabilitas tersebut tidak sepenuhnya dinikmati oleh industri dalam negeri.
Sementara itu, permintaan ekspor produk tekstil masih cukup baik. Meski demikian, kebijakan tarif Amerika Serikat menjadi faktor pengubah peta persaingan global yang harus diantisipasi.
Memasuki 2026, ApsyFi menilai tantangan industri TPT akan semakin besar. Ketidakpastian global, terutama dampak lanjutan kebijakan tarif AS, berpotensi menekan daya saing industri nasional.
Dalam kondisi tersebut, pasar domestik menjadi tumpuan utama. Ia juga mengingatkan, tanpa perlindungan serius terhadap pasar dalam negeri, risiko penutupan pabrik dan tertahannya investasi akan semakin tinggi.
Baca Juga: PGN Pasok Gas Bumi untuk Sektor Industri di Lamongan
Selanjutnya: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Sabtu 3 Januari 2026: Fokus Persiapan
Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Sabtu 3 Januari 2026: Fokus Persiapan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













