Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Arus logistik nasional jelang Lebaran 2026 menunjukkan tren peningkatan signifikan, mendorong pelaku industri dan operator pelabuhan menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menjaga kelancaran distribusi barang.
Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Jawa Tengah-DIY, Teguh Arif Handoko, menyebutkan volume kargo di wilayahnya meningkat hingga 130%. Di Pelabuhan Tanjung Emas, rotasi kontainer naik dari rata-rata 2.800 unit per hari menjadi sekitar 3.000 unit per hari.
Lonjakan tersebut tidak hanya dipicu momentum Lebaran, tetapi juga meningkatnya aktivitas industri di kawasan seperti Kendal dan Batang yang turut mendongkrak throughput pelabuhan.
“Tahun 2023 sekitar 700.000 TEUs, 2024 naik 800.000 TEUs, dan 2025 sudah tembus 1 juta TEUs. Ini signifikan,” ujar Teguh dalam keterangannya, Rabu (25/3).
Di Jawa Timur, peningkatan arus logistik juga tidak kalah tinggi. Ketua ALFI Jatim, Sebastian Wibisono, memperkirakan lonjakan bisa mencapai 80% menjelang Lebaran. Ia menilai kondisi ini tidak terlepas dari tingginya aktivitas distribusi barang, termasuk pasca-Imlek.
Baca Juga: Kinerja Pelabuhan Melambat, Biaya Logistik Terancam Naik Signifikan
Untuk mengantisipasi kepadatan, pelaku logistik menerapkan strategi pengalihan storage. Gudang ekspor sementara digunakan untuk menampung barang impor guna mengurai penumpukan di Pelabuhan Tanjung Perak.
“Kebetulan Nataru, Imlek dan Idulfitri waktunya bersamaan, sehingga load-nya memang tinggi,” ujarnya.
Selain itu, pemindahan kontainer ke depo domestik dan optimalisasi operasional gudang 24 jam juga dilakukan untuk menjaga kelancaran arus barang.
Menghadapi lonjakan tersebut, PT Pelindo Terminal Petikemas mengaku telah melakukan berbagai persiapan sejak dini. Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengatakan sistem operasi terminal memungkinkan perencanaan bongkar muat dilakukan jauh hari.
Terminal juga mampu memprediksi tingkat kepadatan dermaga (berth occupancy ratio) dan lapangan penumpukan (yard occupancy ratio) untuk mengantisipasi lonjakan.
“Kami melakukan antisipasi sejak awal, terutama untuk lapangan penumpukan agar lebih optimal dalam menampung peti kemas,” kata Widyaswendra.
Selain itu, pengelola terminal bersama pemangku kepentingan menyiapkan skema overbrengen atau pemindahan lokasi penumpukan guna mengurai kepadatan di area terminal.
Selama periode Lebaran, operasional terminal tetap berjalan penuh selama 24 jam dalam 7 hari guna memastikan layanan tetap optimal.
Baca Juga: ALI Soroti Kemacetan Bongkar Muat, Biaya Logistik Tertekan
Pelindo juga mengimbau pengguna jasa untuk memanfaatkan terminal booking system agar dapat mengurangi antrean dan kemacetan di sekitar pelabuhan.
Di sisi lain, pelaku usaha menilai peningkatan arus logistik ini perlu diimbangi dengan perbaikan infrastruktur. ALFI menyoroti perlunya perluasan lahan pelabuhan, peningkatan akses jalan, serta penguatan manajemen rantai pasok.
Ketua Apindo Jawa Tengah, Frans Kongi, menilai peningkatan aktivitas bongkar muat menjadi sinyal positif bagi perekonomian, terutama menjelang Lebaran yang mendorong konsumsi masyarakat.
Ia memperkirakan volume bongkar muat bisa meningkat hingga 25% mendekati hari raya, didorong oleh tingginya permintaan barang konsumsi seperti pangan, fesyen, dan kebutuhan Lebaran lainnya.
“Sejak Desember sudah terlihat ada peningkatan aktivitas bongkar muat di sana,” ujarnya.
Dengan tren tersebut, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah diproyeksikan meningkat hingga sekitar 5,7% selama periode Lebaran, lebih tinggi dibandingkan rata-rata normal.
Meski demikian, pelaku usaha tetap mewaspadai ketidakpastian global yang dapat memengaruhi kinerja logistik ke depan.
Baca Juga: Biaya Logistik Berpotensi Naik, ALFI Soroti Kinerja Pelabuhan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













