Reporter: Leni Wandira | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menyoroti perlambatan aktivitas bongkar muat di pelabuhan yang berpotensi mendorong kenaikan biaya logistik nasional, termasuk tarif sewa kontainer.
Ketua Umum DPP ALFI, Akbar Djohan, menjelaskan pelabuhan merupakan titik krusial dalam distribusi barang, baik untuk kontainer maupun kargo curah. Namun, kinerja pelabuhan dinilai masih perlu ditingkatkan, baik dari sisi infrastruktur maupun pengelolaan.
“Pelabuhan itu kan pintu masuk dan pintu keluar distribusi barang. Ada pelabuhan multi terminal yang bisa bongkar muat kontainer maupun non-containerized seperti barang curah. Selain port management yang harus modern, juga harus sudah menerapkan smart port,” ujarnya saat dihubungi Kontan, Rabu (25/3/2026).
Baca Juga: Erajaya: Penjualan Laptop dan Smartphone Meningkat saat Lebaran 2026
Ia menekankan, peningkatan kinerja pelabuhan tidak hanya bergantung pada sistem atau soft infrastructure, tetapi juga pada hard infrastructure seperti peralatan bongkar muat.
“Nah hard infrastructure-nya itu salah satunya adalah equipment, di antaranya crane. Crane di pelabuhan sebagai infrastruktur yang sangat vital. Keandalan dan kecanggihan crane ini dalam operasional memang dituntut harus sangat prima,” jelasnya.
Menurutnya, jika kinerja peralatan dan operasional di darat tidak optimal, maka akan berdampak langsung pada kelancaran arus kapal di pelabuhan.
“Kalau tidak optimal pelayanan di darat, dampaknya kapal yang akan masuk bisa terhambat dan menimbulkan waiting cost yang unpredictable. Ini bisa berdampak domino, mulai dari biaya tunggu kapal membengkak,” katanya.
Akbar menambahkan, kondisi tersebut berpotensi menurunkan daya saing pelabuhan nasional. Jika biaya semakin tinggi, operator kapal dapat mencari alternatif pelabuhan lain.
“Kalau kapalnya merasa pelabuhan ini tidak punya competitiveness pelayanan, maka kapal-kapal itu akan mencari pelabuhan bongkar yang baru,” ujarnya.
Selain itu, keterbatasan kontainer juga memperparah situasi. Pasokan kontainer yang menipis, ditambah tingginya permintaan, membuat biaya sewa menjadi semakin mahal.
Baca Juga: Beban Ekonomi Akibat Kecelakaan Lalu Lintas Diperkirakan Rp 3 Triliun per Tahun
“Kalau kontainernya tertahan, supply-nya sedikit, demand-nya tinggi, maka pasti harga kontainernya naik,” jelasnya.
Kondisi global, termasuk ketegangan geopolitik, turut memengaruhi rantai pasok. Kenaikan biaya asuransi dan hambatan distribusi kontainer berdampak langsung pada biaya pengiriman (freight cost).
Dari sisi pelaku usaha, dampak kenaikan biaya logistik disebut sudah mulai dirasakan, meskipun besaran kenaikan bersifat bervariasi.
“Kalau dampak kenaikan misalnya demurrage cost-nya tinggi, itu bisa 5%–10% dampaknya,” ungkapnya.
Akbar menilai, untuk mengatasi persoalan ini diperlukan pembenahan menyeluruh, baik dari sisi infrastruktur maupun tata kelola. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah penetapan service level agreement (SLA) yang terstandar di pelabuhan.
“Standarisasi soft dan hard infrastructure pelabuhan itu harus punya service level agreement yang terstandar,” ujarnya.
Ia juga mendorong pemerintah untuk segera melakukan transformasi tata kelola logistik nasional guna meningkatkan efisiensi dan daya saing.
Baca Juga: Geser dari CPO ke Produk Turunan, PalmCo Menggarap Hilirisasi Bernilai Tinggi
“Sudah saatnya pemerintah sebagai regulator melakukan transformasi tata kelola logistik nasional, mulai dari pelabuhan, konektivitas, hingga sistem transportasi nasional,” katanya
Menurutnya, momentum ketidakpastian rantai pasok global saat ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan perbaikan struktural demi menciptakan ketahanan logistik nasional ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













