Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) optimistis industri keramik nasional akan kembali mendaki pada tahun 2026. Asaki membidik utilisasi produksi keramik akan mencapai 80%, atau menyentuh level tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto mengungkapkan bahwa optimisme tersebut didorong oleh kombinasi kebijakan pemerintah yang pro-industri, peningkatan kapasitas produksi, serta prospek pertumbuhan konsumsi domestik yang masih sangat besar.
“Target ini realistis dengan catatan dukungan kebijakan pemerintah tetap konsisten dan persoalan struktural industri segera diselesaikan,” kata Edy melalui keterangan tertulis pada Rabu (14/1/2026).
Dorongan kebijakan strategis pemerintah meliputi penerapan bea masuk anti-dumping dan safeguard Keramik, Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk produk keramik, program pembangunan 3 juta unit rumah, insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sektor properti, penurunan suku bunga perbankan, serta program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) 350.000 unit rumah.
Baca Juga: BNI Bersihkan Masjid Darul Aman Pascabanjir di Agam
"Asaki menilai kebangkitan industri keramik tak lepas dari berbagai kebijakan strategis pemerintah. Kebijakan tersebut diyakini mampu mendongkrak permintaan keramik domestik secara signifikan," ujar Edy.
Asaki memproyeksikan kapasitas terpasang ubin keramik nasional akan terus meningkat. Pada 2026, kapasitas terpasang keramik diproyeksikan akan menyentuh 672 juta meter persegi per tahun. Kenaikan berlanjut pada 2027, yang diproyeksikan mencapai 701 juta meter persegi per tahun.
Kemudian pada tahun 2029 diperkirakan mencapai 720 juta meter persegi per tahun. Meski begitu, Asaki mencatat bahwa tingkat konsumsi keramik per kapita Indonesia masih relatif rendah. Pada tahun 2029 konsumsi diperkirakan baru mencapai 2,5 meter persegi per kapita.
Masih tertinggal dibandingkan China dan Vietnam sekitar 4 meter persegi per kapita, maupun Malaysia dan Thailand sekitar 3 meter –3,5 meter persegi per kapita. “Artinya, ruang ekspansi industri keramik nasional masih sangat besar," ujar Edy.
Peluang dan Tantangan Industri Keramik
Sebagai informasi, Asaki telah menggelar Rapat Umum Anggota (RUA) di Jakarta pada 13 Januari 2026. Edy Suyanto kembali terpilih sebagai Ketua Umum Asaki periode 2026–2029. Dalam kesempatan tersebut, Edy memaparkan peta jalan (roadmap) pengembangan industri keramik nasional.
Roadmap tersebut mencakup rencana investasi baru yang mencapai sekitar Rp 5 triliun. Investasi tersebut membuka peluang ekspansi kapasitas produksi 70 juta meter persegi per tahun, serta Penyerapan sekitar 3.500 tenaga kerja baru.
“Dengan sinergi kuat antara pemerintah dan pelaku industri, kami yakin industri keramik nasional tidak hanya bangkit, tetapi juga menjadi pemain utama di kawasan,” ungkap Edy.
Hanya saja di balik optimisme tersebut, Asaki mencatat sejumlah tantangan krusial yang membutuhkan perhatian serius pemerintah. Pertama, krisis pasokan gas industri. Asaki mencatat industri keramik di Jawa Barat hanya menerima sekitar 60%, sementara Jawa Timur hanya menerima 50% – 55% pasokan gas sesuai Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar US$ 7 per MMBTU.
Kekurangannya harus ditebus dengan harga surcharge yang mahal hingga US$ 15,4 per MMBTU, yang menekan daya saing dan utilisasi produksi. Kedua, lonjakan impor keramik. Berdasarkan data Asaki sepanjang 2025, impor keramik melonjak drastis dari sejumlah negara, yakni: India dengan kenaikan 55%, Vietnam naik 32%, dan Malaysia melonjak 210%.
Asaki pun akan bekerjasama dengan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) untuk menyelidik lonjakan impor tersebut. "Kami akan bekerja sama dengan KADI untuk menginisiasi penyelidikan dumping terhadap India pada semester I-2025, serta menelusuri dugaan transhipment produk China melalui Malaysia," ungkap Edy.
Ketiga, masalah bahan baku tanah liat. Menurut Edy, pencabutan izin tambang di Jawa Barat menyebabkan gangguan pasokan bahan baku. Keempat, usulan pemindahan pintu masuk impor. Asaki mendorong percepatan kebijakan pemindahan pelabuhan masuk impor ke luar Pulau Jawa guna melindungi industri domestik.
Di sisi lain, selain ubin keramik, kepengurusan Asaki periode terbaru juga menaruh perhatian besar terhadap industri tableware. Saat ini tingkat utilisasinya masih di bawah 50% akibat serbuan produk impor China yang diduga dumping dan ilegal.
"Asaki mendukung penuh kebijakan sertifikasi halal untuk produk tableware sebagai instrumen non-tariff barrier demi melindungi konsumen sekaligus industri nasional," tandas Edy.
Baca Juga: Kementerian ESDM Klaim RKAB 2026 Vale (INCO) Bakal Terbit Malam Ini
Selanjutnya: BNI Bersihkan Masjid Darul Aman Pascabanjir di Agam
Menarik Dibaca: 4 Rekomendasi Minuman untuk Bantu Cukupi Kebutuhan Vitamin D Anda
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
