kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.000   153,00   0,86%
  • IDX 5.941   -254,36   -4,11%
  • KOMPAS100 785   -38,94   -4,72%
  • LQ45 589   -30,28   -4,89%
  • ISSI 206   -8,52   -3,97%
  • IDX30 334   -15,73   -4,50%
  • IDXHIDIV20 412   -15,89   -3,71%
  • IDX80 89   -4,83   -5,16%
  • IDXV30 113   -4,09   -3,48%
  • IDXQ30 108   -4,46   -3,97%

Batubara untuk listrik akan dibuat lebih 'green'


Rabu, 13 November 2013 / 12:26 WIB
ILUSTRASI. CEO Apple Tim Cook memperlihatkan iPad mini baru saat acara spesial di Apple Park di Cupertino, California, yang disiarkan Selasa (14/9/2021). Brooks Kraft/Apple Inc/Handout via REUTERS


Reporter: Hendra Gunawan | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Penggunaan batubara untuk pembangkit listrik pada awalnya menjadi kontroversi di sektor energi. Pasalnya hasil sisa pembakaran batubara mengandung Co2 yang sangat tinggi.

Karena itu, pemerintah saat ini tengah membangun teknologi yang bisa menyerap karbon dioksida dari sisa pembakaran Batubara. Dalam pelaksanaannya, Co2 yang dikeluarkan dari pembangkit listrik akan disaring dengan sebuah sistem bernama super critical technology.

"Pemerintah sedang mengembangkan super critical technology dan ultra critical technology," ujar Menteri Energi Sumber Daya Mineral Jero Wacik, Rabu (13/11).

Dalam pengembangan ini Kementerian Riset dan Teknologi yang akan memproduksinya. Dengan sistem itu, pembangkit listrik tidak perlu menggunakan bahan bakar minyak (BBM), dan bisa beralih 100% ke batubara karena ramah lingkungan. "Ini peran Menristek menggalakkan teknologi jadi batubara ramah lingkungan," ungkap Jero.

Untuk rencana jangka panjang, penggunaan BBM sudah tidak akan ada lagi. Pasalnya BBM akan diganti gas untuk kendaraan, sedangkan batubara untuk pembangkit listrik.

"Kami akan menggerakkan gas mengganti BBM harus dilaksanakan, penggunaan batubara untuk listrik," jelas Jero. (Tribunnews.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×