Reporter: Herlina KD | Editor: Herlina Kartika Dewi
JAKARTA. Kenaikan harga energi dan pelemahan nilai tukar rupiah membuat beban produsen kaca lembaran PT Asahimas Flat Glass Tbk membengkak. Alhasil, perusahaan ini harus menaikkan harga jual produk demi menjaga margin usahanya.
Sekretaris Perusahaan PT Asahimas Flat Glass Tbk Rusli Pranadi menuturkan, pelemahan nilai tukar rupiah memukul kinerja perusahaan ini. Maklum saja, selama ini separuh dari bahan baku kaca lembaran masih harus diimpor. Sisanya bisa dipasok dari dalam negeri.\
Pukulan datang berganda karena sejak awal tahun Asahimas harus menanggung tambahan beban akibat kenaikan harga energi baik listrik, gas maupun Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi serta kenaikan upah buruh.
Alhasil, itu semua semakin menggerus margin usaha. "Hingga semester I 2013, beban produksi kami naik 9% sampai 10%," ujarnya kepada KONTAN pekan lalu.
Sayang, Rusli enggan membeberkan rinci kenaikan beban produksi ini. Yang jelas, akibat kenaikan beban produksi, perusahaan berkode saham AMFG ini harus melakukan efisiensi guna mengendalikan kenaikan ongkos produksi.
Agar margin tak terus tergerus, Rusli bilang, AMFG memilih menaikkan harga jual kaca lembarannya. "Kami menaikkan harga produk sekitar 5%. Ke depan kami akan berupaya menyesuaikan harga jual lagi dengan mempertimbangkan respon pasar," kata dia.
Selain beban produksi yang meningkat, krisis ekonomi global juga berdampak pada kinerja AMFG. Seperti komoditas lain yang lesu, kata Rusli, permintaan ekspor kaca lembaran juga menurun.
Akibatnya, "Dalam enam bulan pertama tahun ini ekspor kaca lembaran kami bisa turun hingga 20%," jelasnya.Namun, Rusli enggan membeberkan rinci perkiraan penurunan ekspor kaca lembaran AMFG.
Sebagai gambaran, pada kuartal I 2013 ekspor Asahimas Rp mencapai171 miliar, turun ketimbang periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 178 miliar. Jika dilihat prosentasenya, kuartal I 2013, porsi penjualan ekspor Asahimas hanya 24% dari total penjualan. Ini lebih mungil dari periode sama tahun lalu yang mencapai 29% dari total penjualan.
Dari total penjualan Asahimas tahun 2012 yang mencapai Rp 2,86 triliun, sebesar 66,45% atau sebesar Rp 1,89 triliun dari penjualan domestik, sedang sisanya Rp 958,4 miliar atau 33,55% dikontribusi dari penjualan ekspor.
Kendati pasar ekspor tengah lesu, Rusli bilang pasar domestik masih cerah. Bahkan, menurutnya permintaan kaca lembaran dari dalam negeri terus meningkat, terutama dari sektor otomotif.
Apalagi, baru-baru ini pemerintah telah mengeluarkan petunjuk teknis pelaksaan program low cost green car (LCGC) alias mobil murah. Artinya, "Ada peluang segmen pasar baru yang bisa dimanfaatkan," ujar Rusli.
Kehadiran mobil murah juga membuka peluang baru bagi bisnis komponen kendaraan termasuk kaca otomotif. Rusli bilang, hingga saat ini sudah ada dua pabrikan otomotif yang memesan kaca otomotif untuk mobil murah ke Asahimas.
Dua pabrikan itu adalah Toyota yang akan memproduksi Toyota Agya dan Daihatsu dengan merek Daihatsu Ayla. "Order dari dua pabrikan ini sudah mulai diproduksi," kata Rusli.
Ke depan Rusli optimis pesanan kaca lembaran untuk mobil murah bakal berdatangan. Meski begitu, ia masih enggan membeberkan pabrikan otomotif lain yang bakal melirik produk kaca lembaran dari Asahimas
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News