Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemadaman listrik berskala luas (blackout) di sejumlah wilayah Sumatra mulai memukul dunia usaha.
Sektor ritel, pusat perbelanjaan, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi pihak yang paling terdampak akibat lonjakan biaya operasional dan potensi penurunan pendapatan.
Baca Juga: Garasi.id Ingatkan Risiko Penyusutan Armada di Tengah Kenaikan Biaya Operasional
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, gangguan pasokan listrik PLN memaksa pusat perbelanjaan mengandalkan generator set (genset) sebagai sumber listrik cadangan. Kondisi tersebut membuat biaya operasional meningkat tajam.
Menurut Alphonzus, biaya listrik yang dihasilkan genset pada kondisi normal sudah sekitar 200% lebih mahal dibandingkan listrik PLN.
Beban tersebut kini semakin berat setelah harga solar non-subsidi sebagai bahan bakar genset naik sekitar 100%.
“Akibatnya, biaya listrik genset sekarang bisa mencapai 400% hingga 500% lebih mahal dibandingkan listrik PLN,” ujar Alphonzus kepada Kontan.co.id, Minggu (24/5/2026).
Ia memperkirakan penggunaan genset selama gangguan listrik berlangsung berpotensi meningkatkan total biaya operasional pusat perbelanjaan sekitar 35%.
Baca Juga: Astra Graphia (ASGR) Fokus Perkuat Bisnis IT Services pada 2026
Kondisi tersebut terjadi di tengah perlambatan aktivitas ritel pasca periode Ramadhan dan Idulfitri yang biasanya menjadi musim puncak penjualan.
“Tambahan beban biaya operasional ini semakin menekan kinerja sektor ritel karena saat ini industri ritel sedang memasuki periode low season setelah Ramadhan dan Idulfitri,” katanya.
Selain membebani biaya operasional, blackout juga dinilai berpotensi menggerus pendapatan pelaku usaha.
Alphonzus mengestimasi gangguan listrik dapat memangkas potensi pendapatan pusat perbelanjaan hingga sekitar 10%.
Menurut dia, listrik merupakan faktor utama dalam operasional pusat perbelanjaan, mulai dari pendingin ruangan, penerangan, eskalator, hingga kenyamanan pengunjung.
Baca Juga: Pendapatan Astra Graphia (ASGR) Naik 5,34%, Bisnis Solusi Digital Jadi Andalan Baru
“Gangguan pasokan listrik PLN tentu sangat berdampak terhadap pusat perbelanjaan. Selain mengganggu kenyamanan pengunjung, kondisi ini juga berdampak langsung terhadap penjualan tenant,” tegasnya.
Secara terpisah, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan sebagian besar peritel memang memiliki genset cadangan.
Namun kapasitasnya terbatas dan umumnya hanya mampu menopang operasional dalam beberapa jam.
Ia menilai blackout telah memberi tekanan besar terhadap pelaku usaha ritel dan tenant pusat perbelanjaan. Hanya segelintir sektor usaha yang memperoleh keuntungan sementara, seperti penjual senter, lilin, dan baterai.
Baca Juga: Danko Tambah Gerai Pro Shop Kedua di Glodok, Targetkan Ekspansi 6 Gerai Tahun Ini
“Apapun situasinya, blackout ini tetap merugikan. Banyak sektor seperti restoran dan pusat perbelanjaan yang sangat terdampak. Kami cukup terpukul dengan kondisi ini,” ujar Budihardjo.
Senada, Sekretaris Jenderal Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Edy Misero mengatakan pemadaman listrik juga menekan pelaku UMKM dari sisi biaya operasional maupun penurunan jumlah pelanggan.
Menurut dia, penggunaan genset membuat biaya usaha meningkat karena pelaku usaha harus membeli solar dengan harga yang lebih mahal.
“Dengan matinya listrik PLN, otomatis kami membutuhkan solar untuk genset dan itu menambah biaya operasional. Di sisi lain, jumlah pelanggan yang datang juga berkurang,” kata Edy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












