kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.628.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.855   89,00   0,50%
  • IDX 6.385   -56,43   -0,88%
  • KOMPAS100 835   -7,46   -0,89%
  • LQ45 634   -5,96   -0,93%
  • ISSI 222   -3,01   -1,34%
  • IDX30 353   -3,37   -0,95%
  • IDXHIDIV20 440   -4,01   -0,90%
  • IDX80 95   -0,92   -0,95%
  • IDXV30 121   -0,86   -0,71%
  • IDXQ30 114   -1,28   -1,12%

Bunga The Fed Naik, Ekspansi Manufaktur Makin Berat


Senin, 21 September 2026 / 20:04 WIB
Bunga The Fed Naik, Ekspansi Manufaktur Makin Berat
ILUSTRASI. Pameran Mesin Perkayuan (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan rupiah di tengah kenaikan suku bunga global mulai menjadi perhatian pelaku industri manufaktur. 

Tekanan nilai tukar berpotensi meningkatkan biaya produksi, terutama bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku, mesin dan barang modal impor. Kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi margin hingga keputusan ekspansi perusahaan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengatakan, depresiasi rupiah menjadi perhatian terutama jika berlangsung berkelanjutan karena transmisinya cukup langsung terhadap struktur biaya industri.

"Ketika rupiah melemah, biaya input berbasis valuta asing meningkat dan pada akhirnya dapat mendorong kenaikan cost of production," kata Shinta kepada Kontan, Senin (21/9/2026).

Baca Juga: Industri Baja Tertekan Kenaikan Harga Minyak

Menurut Shinta, dampaknya akan lebih terasa pada industri yang berorientasi pasar domestik tetapi memiliki imported content yang tinggi, karena biaya meningkat dalam valuta asing sementara penerimaan sebagian besar tetap dalam rupiah.

Di sisi lain, ruang pelaku usaha untuk meneruskan kenaikan biaya produksi ke harga jual juga terbatas. Pelaku industri masih harus memperhatikan kondisi permintaan dan daya beli masyarakat.

"Karena itu, dalam banyak kasus tekanan nilai tukar terlebih dahulu akan terabsorpsi pada margin perusahaan, cash flow, maupun keputusan untuk melakukan ekspansi dan investasi," ujarnya.

Namun, dampak pelemahan rupiah tidak seragam di setiap industri. Perusahaan dengan kandungan lokal tinggi maupun memiliki pendapatan ekspor mempunyai natural hedge yang relatif lebih baik.

Shinta menilai, bagi dunia usaha yang perlu dicermati bukan hanya level rupiah, melainkan stabilitas dan volatilitas nilai tukar. Kepastian tersebut diperlukan perusahaan untuk menyusun perencanaan biaya dan investasi.

"Apindo memahami bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini juga sangat dipengaruhi dinamika global, sehingga respons kebijakan perlu tetap prudent dan menggunakan bauran instrumen, tidak hanya mengandalkan kenaikan suku bunga," kata dia.

Baca Juga: Penerbangan Asia-Pasifik Tumbuh 5,1%, Kebutuhan Pesawat Capai 19.120 Unit

Di tengah tekanan tersebut, penguatan fundamental sektor riil juga menjadi penting.

Menurut Shinta, penguatan input domestik, peningkatan ekspor dan investasi, pendalaman pasar valas serta instrumen hedging, dan pengurangan berbagai komponen high cost economy perlu berjalan bersama.

Tekanan terhadap industri tersebut semakin relevan setelah The Fed pada 16 September 2026 menaikkan Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4%.

Kenaikan tersebut menambah tekanan terhadap biaya pendanaan global dan nilai tukar.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia Erwin Aksa mengatakan, kenaikan suku bunga The Fed menjadi tambahan tekanan bagi industri manufaktur melalui biaya pendanaan, nilai tukar dan perubahan appetite investor terhadap risiko.

"Bagi perusahaan yang sedang merencanakan ekspansi dengan leverage cukup tinggi, terutama yang menggunakan pinjaman dalam dolar AS, perhitungan kelayakan investasinya akan berubah. Cost of capital meningkat, hurdle rate investasi naik, dan payback period menjadi lebih panjang. Dalam situasi seperti ini, perusahaan cenderung lebih selektif terhadap proyek baru," kata Erwin kepada Kontan, Senin (21/9/2026).

Baca Juga: HIMKI Siapkan Strategi Baru Hadapi Perubahan Industri Global

Meski demikian, Erwin belum melihat kenaikan suku bunga The Fed sebagai pemicu penghentian investasi manufaktur secara luas. Realisasi investasi semester I 2026 masih mencapai Rp 1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2% secara tahunan.

"Jadi yang terjadi lebih tepat disebut repricing dan reprioritization of investment, bukan investment freeze. Proyek yang sudah berjalan atau memiliki fundamental kuat kemungkinan tetap dilanjutkan, sedangkan proyek baru yang margin-nya tipis, kebutuhan pembiayaannya besar, atau sangat bergantung pada impor akan dievaluasi lebih ketat," ujarnya.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai kenaikan suku bunga The Fed juga akan mengubah perhitungan investasi perusahaan.

"Yang berubah adalah perhitungan investasinya. Biaya pendanaan global naik, dolar menguat, dan premi risiko emerging market ikut meningkat. Dampaknya ke manufaktur Indonesia terutama melalui biaya kredit, nilai tukar, dan permintaan," kata Yusuf kepada Kontan, Senin (21/9/2026).

Menurut dia, proyek pabrik baru, tambahan kapasitas maupun pembelian mesin yang masih mengandalkan kredit akan dihitung lebih ketat. Perusahaan akan melihat kembali tingkat pengembalian investasi setelah memperhitungkan bunga dan risiko nilai tukar.

Baca Juga: Kinerja Semester I-2026 Tumbuh Double Digit, Medela (MDLA) Tambah Lima Prinsipal Baru

Kenaikan bunga global juga menjadi perhatian bagi perusahaan yang memiliki utang valuta asing (valas).

Berdasarkan data Bank Indonesia, utang luar negeri (ULN) swasta pada kuartal II 2026 mencapai US$194,6 miliar, turun 0,6% secara tahunan. Sekitar 75,7% di antaranya merupakan utang jangka panjang.

Erwin mengatakan risiko tersebut tidak bisa disamaratakan di seluruh perusahaan manufaktur. Perusahaan dengan pendapatan rupiah tetapi kewajiban utang dan bunga dalam dolar AS akan menghadapi tekanan lebih besar ketika rupiah melemah.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Wirawasta menilai tekanan eksternal tersebut datang ketika hambatan investasi domestik masih cukup besar.

"Sebelum kenaikan suku bunga the fed, hambatan internal untuk investasi dan ekspansi di Indonesia terlalu banyak, bahkan realisasi dari rencana investasi 2 tahun terakhir juga masih minim. Dengan adanya perkembangan baru ini, tekanan eksternal akan menambah hambatan investasi ini," kata Redma kepada Kontan, Senin (21/9/2026).

Baca Juga: Industri Manufaktur Masih Ekspansif, Tapi Mulai Injak Rem

Menurut Yusuf, dampak terhadap investasi asing juga lebih terlihat pada meningkatnya standar kelayakan proyek. Investor akan semakin memperhitungkan risiko kurs, bunga, energi dan rantai pasok.

"Pada PMA, perubahan utamanya bukan investor langsung meninggalkan Indonesia, melainkan standar kelayakan investasi menjadi lebih tinggi," ujarnya.

Ia menambahkan, proyek yang memiliki pendapatan dolar, bahan baku domestik, kontrak pembelian jangka panjang atau dukungan kebijakan industri yang jelas memiliki struktur risiko yang berbeda dibandingkan proyek yang bergantung pada pembiayaan murah dan permintaan ekspor yang belum pasti.

Dengan kondisi tersebut, kuartal IV 2026 hingga awal 2027 menjadi periode penting untuk melihat dampak kenaikan biaya modal terhadap pipeline investasi baru.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×