Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produksi minyak sawit Indonesia pada tahun 2027 diperkirakan turun sebesar 2,9% menjadi 56,8 juta metrik ton akibat cuaca kering berkepanjangan yang mengganggu pemeliharaan perkebunan.
Indonesia, produsen minyak sawit terbesar di dunia, sedang mengalami dampak pola cuaca El Nino yang menyebabkan kekeringan dan memperparah kebakaran hutan serta lahan di Sumatra dan Kalimantan.
"Akibat cuaca kering, banyak perusahaan menghentikan pemupukan, karena jika kami memberikan pupuk pun, itu akan sia-sia karena pupuk akan menguap," kata Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Hadi Sugeng kepada Reuters, Rabu (2/9/2026).
Baca Juga: Danantara Investment Management (DIM) Masuk VKTR, CORE Ingatkan Risiko Return
Hadi bilang, harga pupuk pada semester kedua tahun ini juga telah meningkat 30% akibat dampak perang di Timur Tengah.
Gapki memperkirakan produksi minyak sawit tahun 2026—mencakup minyak sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (PKO)— mencapai 58,5 juta metrik ton. Angka ini lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 58,8 juta ton karena cuaca kering memperlambat pematangan buah.
Produksi tahun ini diperkirakan 3,4% lebih tinggi dibandingkan angka 56,55 juta ton pada tahun 2025, seiring dengan dimulainya masa produksi di area peremajaan tanaman (replanting) dan perkebunan baru.
Peremajaan tanaman yang dilakukan perusahaan telah memasuki tahap produksi. Tanaman yang diremajakan dalam lima tahun terakhir sudah mulai berproduksi.
"Terdapat pula indikasi peningkatan luas lahan perkebunan kelapa sawit melalui konversi lahan non-kelapa sawit menjadi perkebunan kelapa sawit, khususnya pada perkebunan rakyat," ujar Hadi.
Baca Juga: Harga Mineral Periode Kedua Agustus 2026: Harga Nikel Turun, Emas dan Tembaga Naik
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














