kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   15.000   0,55%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Lampu merah untuk industri susu nasional


Selasa, 09 September 2014 / 15:16 WIB
ILUSTRASI. Spearmint tea, salah satu minuman teh herbal yang memiliki banyak manfaat baik terutama bagi para perempuan.


Reporter: Mona Tobing | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Lampu merah bagi industri susu nasional. Di tengah usaha pemerintah menggalakan swasembada daging sapi lewat impor bibit sapi dan bakalan. Industri sapi perah perlu mendapat perhatian. Di tengah penurunan populasi sapi, harga susu dunia selama setengah tahun terakhir menurun. 

Ketua Dewan Persusuan Nasional Teguh Boediyana mengatakan, tingginya harga daging sapi mengkhawatirkan peternak sapi perah. Hal inilah yang membuat peternak susu sapi perah melakukan perpindahan atau migrasi dari peternakan susu menjadi sapi potong. 

"Wajar jika peternak sapi perah kemudian memotong sapinya. Karena menjual daging sapi lebih cepat. Harganya juga tinggi," ujar Teguh pada Selasa (9/9). 

Padahal permintaan pasar akan susu terus naik seiring dengan minuman kemasan susu yang kian marak. Jika kondisi ini terus terjadi, Teguh khawatir pada tahun 2020 produksi susu nasional hanya mencapai 10% dari kebutuhan nasional. 

Seperti diketahui, Dewan Persusuan Nasional menghitung setiap hari kebutuhan susu nasional setiap hari mencapai 10.000 ton. Dari kebutuhan tersebut, peternak sapi lokal hanya menyumbang sekitar 1.800 ton hingga 2.000 ton setiap harinya. Sedangkan sekitar 8.800 ton sampai 8.000 ton harus impor. 

Selama tiga tahun terakhir jumlah sapi perah lokal terus turun. Pada tahun 2012 jumlah sapi perah lokal sempat mencapai 425.000 ekor menyusut menjadi 400.000 ekor ditahun 2013. Terakhir pada Mei 2014 mencapai 375.000 ekor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×