kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Ekspor mebel rotan tumbuh 20% di kuartal I 2013


Jumat, 15 Maret 2013 / 09:20 WIB
Ekspor mebel rotan tumbuh 20% di kuartal I 2013
ILUSTRASI. Wawan Hendrayana,Head Of Capital Market Research www.infovesta.com


Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Sandy Baskoro

JAKARTA. Pelaku industri mebel rotan optimistis permintaan ekspor meningkat di awal tahun ini. Selama kuartal I-2013, ekspor mebel rotan diprediksi tumbuh 20% (year-on-year) jadi US$ 69,8 juta.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Mebel Kayu dan Rotan Indonesia (AMKRI), Abdul Sobur, menilai penghentian ekspor bahan baku rotan asalan
menyebabkan industri mebel rotan di negara lain kesulitan. Kelangkaan bahan baku ini menjadi lahan bagi produsen mebel nasional untuk masuk
pasar. "Kami bisa mengisi pasar yang sebelumnya milik mereka," kata dia.

Tak hanya mengincar pasar ekspor yang selama ini menjadi sasaran produsen asing seperti China, industri mebel rotan Indonesia bahkan berpotensi merangsek masuk pasar domestik China.

Alhasil, penetrasi ke pasar eskpor baru menjadi salah satu agenda industri mebel rotan nasional di tahun ini. Selain China, pengusaha mengincar pasar lain seperti Afrika dan Amerika Latin. Adapun dari pasar tradisional seperti Eropa dan Amerika Serikat, permintaan mebel masih baik meski tidak maksimal lantaran ekonomi masih krisis.

Industri mebel nasional juga bisa menarik investasi asing. Olympic Group, misalnya, mulai merealisasikan pembangunan klaster industri mebel di Sukabumi tahun ini.

Chairman Olympic Group, Au Bintoro, meyakini dengan pasokan bahan baku yang ada di Indonesia, pelaku bisnis mebel dari luar negeri akan masuk
di klaster mereka. "Begitu juga dengan pelaku industri di dalam negeri karena upah buruh di Sukabumi lebih murah dari daerah asal mereka," ujar
dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU

[X]
×