kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Fluktuasi pasokan, harga tomat naik turun


Senin, 17 Agustus 2015 / 12:10 WIB


Reporter: Benediktus Krisna Yogatama | Editor: Mesti Sinaga

JAKARTA.  Kementerian Perindustrian mengatakan, fluktuasi pasokan tomat menjadi penyebab naik turunnya harga tomat.

"Ini permasalahan fluktuasi produksi. Sementara industri ini kan tidak bisa fluktuatif," ujar Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto, Senin (17/8).

Hal itu mendorong Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Kesehatan mendorong serapan tomat petani dalam negeri dengan membagi-bagi dan menjual tomat petani hari ini di kementerian masing-masing.

Fluktuasi pasokan yang akhirnya membuat harga naik turun, tidak hanya terjadi pada komoditas tomat. Hal serupa juga terjadi pada berbagai komoditas kebun lainnya, seperti, cabai, kakao, kopi, susu dan lain-lain.

Panggah menjelaskan, fluktuasi pasokan disebabkan musim cuaca, dan preferensi petani yang akan bertani.

"Petani ini tanamnya ganti-ganti, tidak selalu tomat terus sepanjang tahun. Saat cabai lagi bagus harganya, mereka pilih tanam cabai, nah ini pasokan tomat berkurang. Ini kan tidak baik, tapi tidak bisa disalahkan juga," ujar Panggah.

Kondisi tersebut, ujar Paggah, berdampak pada industri pengolahan makanan yang berada di hilirnya.

"Industri hilir kan misalnya kapasitas 80 atau 100, dia processing-nya stabil di hilir. Sementara di hulunya fluktuatif, tergantung musim," ujar Panggah.

Sayangnya Panggah mengatakan dia tidak ingat berapa besar kebutuhan industri hilir akan tomat.

Ia mengatakan, solusi dari masalah ini adalah membuat koperasi petani. "Lebih disebabkan oleh pengelolaan di pasca-panen yang tidak optimal. Idealnya koperasi.  Di mana-mana juga koperasi petani. Nah ini tergantung bagaimana koperasi petani ini bisa mengelola usaha koperasi di pasca-panen," ujar Panggah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×