kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.830.000   -50.000   -1,74%
  • USD/IDR 17.211   48,00   0,28%
  • IDX 7.542   -17,77   -0,24%
  • KOMPAS100 1.031   -8,30   -0,80%
  • LQ45 736   -7,70   -1,04%
  • ISSI 273   -0,06   -0,02%
  • IDX30 401   0,75   0,19%
  • IDXHIDIV20 492   5,09   1,05%
  • IDX80 115   -0,96   -0,82%
  • IDXV30 141   2,14   1,54%
  • IDXQ30 129   0,46   0,36%

Garasi id: Armada Masuk Usia 5 Tahun, Biaya Naik dan Nilai Turun Jadi Pertimbangan


Rabu, 22 April 2026 / 21:24 WIB
Garasi id: Armada Masuk Usia 5 Tahun, Biaya Naik dan Nilai Turun Jadi Pertimbangan
ILUSTRASI. Garasi.id (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan mempertahankan atau menjual kendaraan operasional menjadi isu krusial bagi perusahaan yang bergantung pada armada. Meski kendaraan masih bisa digunakan, biaya tersembunyi yang muncul seiring usia pakai kerap tidak disadari.

Memasuki usia 4–5 tahun, performa kendaraan umumnya mulai menurun. Risiko kerusakan meningkat, sementara efisiensi operasional menurun. Di sisi lain, nilai kendaraan juga terus tergerus depresiasi setiap tahun.

“Dengan data inspeksi yang komprehensif, perusahaan tidak lagi mengambil keputusan berdasarkan asumsi. Semua bisa dihitung mulai dari biaya perbaikan, potensi depresiasi, sampai nilai jual yang paling optimal,” tambah Ardy Alam, CEO Garasi.id dalam keterangannya, Rabu (22/4/2026).

Baca Juga: YouTube Patuhi PP Tunas, Pemerintah Klaim Proteksi Anak Diperketat

Berdasarkan simulasi industri, kendaraan yang dibeli sekitar Rp 250 juta dapat mengalami penurunan nilai hingga 40%–50% dalam lima tahun. Artinya, nilai jual bisa turun ke kisaran Rp 120 juta–Rp 140 juta, tergantung kondisi dan perawatan.

Sementara itu, biaya perawatan juga meningkat signifikan. Pada dua tahun awal, biaya servis relatif ringan di kisaran Rp 2 juta–Rp 4 juta per tahun. Namun memasuki tahun ketiga hingga kelima, biaya dapat naik menjadi Rp 5 juta hingga Rp 15 juta per tahun, bahkan berpotensi lebih tinggi jika terjadi kerusakan besar.

Kondisi ini memunculkan dilema bagi perusahaan: mempertahankan kendaraan karena masih bisa digunakan, atau menjual sebelum nilainya turun lebih dalam.

Jika dipertahankan, perusahaan memang tidak perlu mengeluarkan investasi baru dalam jangka pendek. 

Namun, konsekuensinya adalah peningkatan biaya perawatan, risiko kerusakan mendadak, serta penurunan nilai aset secara berkelanjutan.

Baca Juga: Diversifikasi ke Alkes, Chitose International (CINT) Bidik Peluang dari Segmen RS

Sebaliknya, jika kendaraan diganti, perusahaan perlu mengeluarkan biaya investasi baru. Namun, kendaraan baru menawarkan performa yang lebih stabil dan biaya operasional yang lebih terkendali dalam jangka panjang.

Garasi.id menilai, kesalahan paling umum dalam pengelolaan armada adalah pengambilan keputusan tanpa basis data yang memadai. Banyak perusahaan hanya mengandalkan parameter umum seperti usia kendaraan, jarak tempuh, dan harga pasar, tanpa melihat kondisi riil kendaraan.

Padahal, kondisi kendaraan bisa sangat berbeda meski memiliki spesifikasi yang sama. Akibatnya, kendaraan bisa dijual terlalu murah atau justru sulit terjual karena harga tidak sesuai kondisi.

Untuk itu, pendekatan berbasis data dinilai menjadi kunci. Melalui layanan inspeksi kendaraan, perusahaan dapat memperoleh gambaran menyeluruh kondisi mobil, mulai dari performa mesin, sistem kelistrikan, hingga struktur kendaraan.

Baca Juga: Jaecoo Resmikan Dealer ke-32 di Banjarbaru Kalimantan Selatan

Dengan informasi tersebut, perusahaan dapat menghitung biaya perbaikan secara lebih akurat, menentukan kelayakan penggunaan kendaraan, serta menetapkan harga jual yang optimal.

Pendekatan ini diharapkan dapat membantu perusahaan mengelola armada secara lebih efisien, sekaligus meminimalkan potensi kerugian akibat keputusan yang tidak berbasis data.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×