kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45932,69   4,34   0.47%
  • EMAS1.335.000 1,06%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Hadapi El Nino, Begini Mitigasi Bisi International (BISI)


Minggu, 11 Juni 2023 / 09:35 WIB
Hadapi El Nino, Begini Mitigasi Bisi International (BISI)
ILUSTRASI. PT Bisi International Tbk (BISI) menganggap El Nino tidak terlalu banyak berpengaruh terhadap produksi benih jagung.


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. El Nino diprediksi akan melanda Indonesia dan mencapai puncaknya pada Agustus sampai dengan September mendatang.

Efeknya, curah hujan menurun dan terjadi kekeringan di sejumlah wilayah, yang bisa mengancam produksi hortikultura dan pangan pertanian. Kekeringan yang diakibatkan oleh El Nino juga dapat mengurangi produktivitas pertanian dan menyebabkan penurunan pasokan pangan.

Salah satu emiten hortikultura PT Bisi International Tbk (BISI) menganggap El Nino tidak akan terlalu banyak berpengaruh karena bisnis utama Bisi International menjual benih jagung.

"Karena tanaman jagung tidak memerlukan banyak air. Air hanya diperlukan pada saat awal tanam sampai pembentukan buah, dan tidak perlu air yang terlalu banyak," kata Agus Saputra Wijaya, Direktur Utama Bisi International saat dihubungi Kontan.co.id, Sabtu (10/6).

Baca Juga: Bisi International (BISI) Tebar Dividen 2022 Sebesar Rp 68 per Saham

Agus justru menilai, jauh lebih merepotkan ketika terjadi La Nina. La Nina terjadi ketika suhu permukaan laut menjadi dingin. Pendinginan ini mengurangi pertumbuhan awan dan meningkatkan curah hujan di Indonesia.

Dia menerangkan, El Nino akan lebih berpengaruh di crop line seperti buah, sayur, dan padi. Menurut dia, mestinya petani akan memerlukan usaha lebih dari biasanya terkait ketersediaan air di lahan seperti harus menyediakan pompa.

"Hal tersebut sebaiknya harus diantisipasi dari sekarang," ujar dia.

Terkait hambatan pasokan, Agus menyampaikan, sebagai perusahaan benih, BISI akan berusaha melakukan riset bagaimana merilis benih-benih berkualitas yang tahan cekaman, terutama cekaman air dan kekeringan.

Cekaman air yakni kondisi lingkungan di mana tanaman tidak menerima asupan air yang cukup, sehingga tanaman tidak dapat melakukan proses pertumbuhan dan perkembangan dengan baik.

Sementara itu, cekaman kekeringan terjadi apabila kebutuhan air tanaman tidak dapat tercukupi dengan baik akibat terjadinya defisit air.

"Ini yang terus kami lakukan dari sisi riset," tutur dia.

Dari hasil tersebut, kata Agus, cukup banyak benih dari panen jagung yang cukup tahan terhadap kekeringan.

Asal tahu saja, Bisi International tahun ini memiliki anggaran belanja modal alias capital expenditure (capex) senilai Rp 87 miliar. 

Selain itu, BISI memiliki tambahan carry over capex sekitar senilai Rp 71 miliar dari anggaran tahun lalu. Dengan demikian, Perseroan tahun ini bisa menggunakan capex senilai mencapai Rp 158 miliar hingga Rp 160 miliar.

Baca Juga: Kinerja Bisi International (BISI) Tahun Ini Diramal Terungkit Permintaan Benih Jagung

Adapun, capex dialokasikan untuk project membangun pabrik yang ada di Makassar, Sulawesi Selatan. Proyek pembangunan pabrik di Makassar ini bergerak untuk memproduksi pupuk dalam segmen agrochemical perseroan.

Estimasinya, proyek ini membutuhkan dana sekitar Rp 196 miliar dan per Mei 2023 baru memasuki proses 30% pembangunan.

Pabrik ini juga diestimasi bisa memproduksi 15.000 ton pupuk per tahun. Lokasi pabrik ini menempati lokasi lahan 6,8 hektar dan diharapkan dapat menyuplai kebutuhan pupuk di kawasan timur Indonesia seperti Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan NTT. 

Dengan adanya pabrik baru tersebut, Perseroan tetapkan pertumbuhan produksi sebesar 20% hingga 25% per tahunnya. Untuk tahun ini, Perseroan mengejar produksi di kisaran angka 20.000 ton per tahun.

Baca Juga: Bisi International (BISI) Kantongi Penjualan Neto Rp 2,42 Triliun pada 2022

Penjualan BISI pada kuartal I 2023 tercatat di angka Rp 396,55 miliar, turun 35,92% dari Rp 618,88 miliar di periode yang sama tahun lalu. Laba bersih yang dapat diatribusikan pada entitas induk menurun 67,50% di angka Rp 50,12 miliar dari Rp 154,23 miliar.

Segmen agrochemical menempati penjualan 52% di nilai Rp 207,95 miliar diikuti oleh benih jagung senilai Rp 116,07 miliar atau sebesar 29%. 

Pupuk holtikultura menempati porsi kontribusi penjualan sebesar 18% di angka Rp 69,24 miliar. Lalu benih padi di angka Rp 1,09 miliar dan lainnya Rp 2,19 miliar. 

Tahun ini BISI optimistis target pertumbuhan pendapatan dan laba bersih bisa tumbuh double digit. Strategi yang dilakukan adalah fokus menjalin kerja sama dan kemitraan baik dengan perusahaan ternak dan petani dalam merentalkan mesin. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×