Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertamina Patra Niaga terus melakukan koordinasi dengan pemerintah guna menjaga ketahanan stok nasional serta ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun menyatakan, langkah ini diambil di tengah lonjakan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) yang menembus US$ 117,31 per barel pada April 2026.
"Pertamina secara intensif dan terukur terus berkoordinasi dengan pemerintah dalam rangka menjaga stok nasional dan ketersediaan BBM termasuk biaya kompensasi dari pemerintah," ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (21/5/2026).
Baca Juga: RI dan Malaysia Restui Transfer Blok Migas ke Joint Venture Eni-Petronas
Guna menjaga kelancaran cash flow operasional perusahaan di tengah fluktuasi harga komoditas yang tinggi, anak usaha PT Pertamina (Persero) ini telah menyiapkan strategi pengelolaan inventory.
Salah satu fokus utamanya adalah memperluas jaringan pasokan minyak mentah dan produk kilang dari para mitra strategis. Roberth menjelaskan bahwa pihaknya aktif mencari alternatif pasokan guna mengamankan ketersediaan energi dalam negeri.
"Menjalin kerjasama dan mencari supplier baru dan memperluas calon mitra dalam pemenuhan energi," jelasnya.
Baca Juga: Populasi Kendaraan Listrik Terus Naik, PLN Resmikan SPKLU ke-5.000 di Indonesia
Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia ini dipastikan tidak menghentikan rencana ekspansi bisnis hilir perusahaan. Pertamina Patra Niaga menegaskan proyek pengembangan jaringan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) tetap berjalan melalui skema kemitraan.
"SPBU adalah bisnis pertamina bersama mitra. Sehingga hal ini selain menjadi pertimbangan perusahaan juga tetap membuka peluang dengan mitra umum apabila akan bekerja sama," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













