kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.678.000   -14.000   -0,83%
  • USD/IDR 16.585   -130,00   -0,79%
  • IDX 6.271   -214,85   -3,31%
  • KOMPAS100 907   -39,76   -4,20%
  • LQ45 704   -27,76   -3,80%
  • ISSI 197   -7,32   -3,58%
  • IDX30 365   -13,68   -3,62%
  • IDXHIDIV20 445   -14,85   -3,23%
  • IDX80 103   -4,03   -3,77%
  • IDXV30 108   -4,81   -4,27%
  • IDXQ30 120   -4,00   -3,23%

Harga minyak rendah, eksplorasi akan minim di 2016


Rabu, 02 Desember 2015 / 21:40 WIB
Harga minyak rendah, eksplorasi akan minim di 2016


Reporter: Febrina Ratna Iskana | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Menurunnya harga minyak dunia sejak pertengahan 2014 hingga saat ini membuat investasi di industri migas menjadi menciut. Harga minyak dunia yang pada pertengahan tahun lalu masih berada di level US$ 100 per barel perlahan menurun hingga mencapai level US$ 40 per barel.

Presiden Indonesian Petroleum Association (IPA), Craig Stewart mengatakan dari proyeksi enam bulan lalu, harga minyak diprediksi bisa kembali naik pada akhir tahun 2015 hingga menyentuh level US$ 80 per barel. Namun nyatanya saat ini harga minyak terus turun bahkan mencapai sekitar US$ 40 barel.

"Berdasarkan pandangan dari industri, harga minyak tidak mungkin menguat dalam jangka pendek dan kami memprediksi pelemahan harga minyak ini akan berlangsung untuk jangka waktu yang lama. Hal ini terjadi di industri, di mana-mana di dunia maupun di Indonesia juga," jelas Craig dalam konferensi pers di Hotel Dharmawangsa pada Rabu (2/12).

Dengan kondisi harga minyak yang tengah melemah, Craig bilang perusahaan produsen migas harus bisa kompetitif. Caranya dengan melakukan restrukturisasi perusahaan, mengurangi modal, dan menunda melakukan eksplorasi di Indonesia.

Maklum, dengan harga minyak yang rendah ditambah dengan kontrak PSC yang berlaku saat ini dan sulitnya melakukan ekplorasi di wilayah Indonesia, maka produsen minyak dan gas pun mengalami kesulitan dalam melakukan pengembangan suatu proyek migas.

 "Indonesia saat ini masih mempertahankan kontrak PSC yang sama. Dulu eksplorasi masih bisa dilakukan karena harga minyak mencapai US$ 100 pe barel. Saat ini harga minyak tidak lagi US$ 100 dolar, kami berada dalam tahapan di mana kontrak tersebut harus dilihat dengan lebih jelas," ujar Craig.

Direktur IPA, Sammy Hamzah menambahkan penurunan harga minyak akan berpengaruh pada investasi dan pekerja industri migas. Apalagi saat ini untuk menemukan cadangan migas harus memerlukan teknologi yang lebih kompleks dengan biaya yang lebih mahal. Berbeda dengan kondisi pada tahun 1960-an atau 1970-an di mana penemuan cadangan minyak masih menggunakan teknologi konvensional dengan biaya yang rendah.

"Dengan penurunan harga minyak hingga mencapai sekitar US$ 40 per barel, maka dana industri migas akan menciut. Sehingga perusahaan industri migas akan sulit lagi untuk melakukan eksplorasi karena investasi akan berkurang secara signifikan di Indonesia," kata Sammy.

Untuk itu pemerintah juga diharapkan mampu menggairahkan minat para investor hulu migas untuk melakukan eksplorasi. Sammy mengapresiasi usaha pemerintah menerbitkan Permen 38 tahun 2015 untuk bisa menarik investasi untuk eksplorasi. Namun pemerintah masih ditunggu untuk bisa melakukan implementasi beleid tersebut.

Di sisi lain, Sammy menyebut dengan rendahnya harga minyak maka para produsen minyak akan dituntut untuk melakukan konsolidasi biaya-biaya perusahaan agar meningkatkan efisiensi. Dengan begitu, secara langsung bisa menurunkan biaya service bagi industri migas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Mastering Finance for Non Finance Entering the Realm of Private Equity

[X]
×