Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Himpunan Kawasan Industri (HKI) mendorong pemerintah segera membentuk Tim Pengawalan dan Percepatan Investasi sebagai tindak lanjut dari hasil diplomasi ekonomi Presiden Prabowo Subianto ke sejumlah negara mitra.
Ketua Umum HKI sekaligus Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kawasan Ekonomi Khusus, Kawasan Industri, dan Proyek Strategis Nasional, Akhmad Ma’ruf Maulana, menilai langkah diplomasi tersebut berhasil menggalang komitmen investasi dari Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Jepang hingga Republik Korea.
Menurut dia, komitmen investasi tersebut menjadi peluang besar untuk memperkuat hilirisasi industri dan ketahanan energi nasional. Namun, Ma’ruf mengingatkan tantangan utama justru berada pada tahap realisasi di lapangan.
“Presiden sudah bekerja luar biasa menjemput bola ke mancanegara, kami sangat apresiasi tinggi. Namun, kami di HKI dan Kadin mencermati bahwa di lapangan masih ditemukan sumbatan dan hambatan. Birokrasi yang berbelit, inkonsistensi regulasi pusat-daerah, serta kendala teknis lainnya seringkali membuat investor ragu untuk melakukan groundbreaking,” ujar Ma’ruf dalam keterangan resmi, Senin (13/4/2026).
Baca Juga: HKI Sambut Pembentukan Satgas De Bottlenecking untuk Atasi Hambatan Investasi
Ia menilai, tanpa pengawalan khusus, berbagai komitmen investasi tersebut berisiko tidak terealisasi optimal. Oleh karena itu, HKI mengusulkan pembentukan tim yang berfungsi sebagai unit reaksi cepat untuk mengurai hambatan investasi secara menyeluruh.
Ma’ruf menambahkan, investor dari Jepang, Korea, dan Amerika Serikat umumnya menuntut kepastian hukum dan kejelasan implementasi. Jika hambatan di lapangan tidak segera diselesaikan, Indonesia berpotensi kehilangan momentum masuknya investasi.
"Kita tidak ingin komitmen besar ini hanya menjadi seremoni penandatanganan saja. Tim Pengawalan dan Percepatan Investasi ini harus memastikan setiap dolar yang dijanjikan benar-benar masuk ke kawasan industri dan memberikan dampak ekonomi nyata,” tambahnya.
Baca Juga: Outlook Fitch Negatif, HKI Desak Percepatan Realisasi Investasi
HKI pun optimistis Indonesia dapat menjadi pusat produksi dalam rantai pasok global. Namun, hal itu membutuhkan sinergi lintas sektor serta pengawalan investasi yang kuat dan konsisten.
“Saatnya kita buktikan kepada dunia, terutama mitra kita dari Jepang hingga Timur Tengah, bahwa Indonesia bukan hanya tempat yang nyaman untuk berdiskusi, tapi adalah tempat yang paling tepat untuk berinvestasi,” tutup Ma'ruf.
Baca Juga: HKI: Tumpang Tindih Aturan & Perizinan Berlapis Hambat Investasi di Kawasan Industri
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













