Reporter: Hervin Jumar | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) mendorong percepatan pembangunan pelabuhan antariksa atau spaceport di Biak, Provinsi Papua, seiring ambisi Indonesia menjadi salah satu gerbang peluncuran satelit dunia berbasis kawasan ekuator.
CEO PSN, Adi Rahman Adiwoso, mengungkapkan posisi Biak yang berada sekitar satu derajat di selatan garis khatulistiwa memberikan keuntungan strategis untuk aktivitas peluncuran roket dan satelit.
Menurutnya, lokasi tersebut mampu meningkatkan efisiensi peluncuran hingga sekitar 15% sampai 20% dibanding sejumlah pusat peluncuran global seperti Cape Canaveral di Amerika Serikat.
Baca Juga: BI Prediksi Penjualan Eceran Tiga-Enam Bulan ke Depan Melambat, Tertekan Inflasi
“Kepala negara sudah mengumumkan bahwa pelabuhan antariksa akan berada di Biak,” ujar Adi saat pembukaan Asia Pacific Satellite International Conference (APSAT) 2026 di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Ia menyebut, proyek spaceport Biak kini mulai menarik perhatian sejumlah negara dan perusahaan internasional. Saat ini, telah ada komunikasi dan pembahasan antara Indonesia dengan Rusia, serta perusahaan dari Turki dan India terkait pengembangan fasilitas tersebut.
Menurut Adi, pelabuhan antariksa Biak nantinya tidak hanya digunakan untuk kepentingan domestik, tetapi juga dibuka untuk akses internasional.
“Pelabuhan antariksa ini akan disediakan untuk akses internasional,” katanya.
PSN menilai pembangunan spaceport menjadi bagian penting dalam memperkuat kemandirian teknologi dan akses Indonesia menuju antariksa di tengah meningkatnya kebutuhan industri satelit global.
Selain mendukung peluncuran satelit komunikasi, fasilitas tersebut juga diproyeksikan menopang pengembangan konstelasi satelit observasi bumi, Internet of Things (IoT), hingga layanan direct-to-device (D2D) yang kini mulai dikembangkan perusahaan nasional.
Adi mengatakan Indonesia tidak bisa hanya menjadi pasar industri antariksa global, tetapi harus mulai membangun kemampuan peluncuran dan manufaktur satelit sendiri.
Baca Juga: Volume Throughput Jasa Transportasi BBM Elnusa (ELSA) Naik 22% Kuartal I-2026
“Kita harus merespons dengan memastikan kapasitas kedaulatan Indonesia tetap terjaga,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, mengatakan Indonesia saat ini tengah memperkuat roadmap industri antariksa nasional sebagai bagian dari visi ekonomi antariksa 2045.
Menurut Arif, Indonesia sebenarnya telah menjadi negara pertama di Asia yang mengoperasikan satelit komunikasi domestik sejak 1976. Namun, hingga kini sebagian besar teknologi satelit nasional masih bergantung pada pihak luar negeri.
Itu sebabnya, BRIN menilai pembangunan ekosistem antariksa nasional perlu diperkuat, mulai dari riset, manufaktur satelit, sistem peluncuran, hingga pengembangan sumber daya manusia.
“Indonesia perlu membangun industri antariksa yang berkelanjutan dan terkonsolidasi,” kata Arif.
Selain pembangunan pelabuhan antariksa, BRIN dan industri nasional juga tengah menyiapkan proyek satelit Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1) dan Nusantara Equatorial IoT (NEI) yang ditargetkan mulai meluncur pada 2027.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













