kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.622.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 18.015   32,00   0,18%
  • IDX 6.174   -22,50   -0,36%
  • KOMPAS100 806   -5,49   -0,68%
  • LQ45 611   -3,58   -0,58%
  • ISSI 214   -0,55   -0,26%
  • IDX30 344   -2,04   -0,59%
  • IDXHIDIV20 426   -2,92   -0,68%
  • IDX80 92   -0,59   -0,64%
  • IDXV30 116   -0,54   -0,46%
  • IDXQ30 110   -0,86   -0,78%

Indonesia ekspor gas karena butuh duit


Rabu, 26 Desember 2012 / 16:08 WIB
ILUSTRASI. Perlindungan program Jamsostek untuk non ASN dan pekerja rentan jadi prioritas


Reporter: Oginawa R Prayogo | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Meski pasokan gas untuk kebutuhan domestik masih kurang, tetapi pemerintah sepertinya tak kuasa untuk menghentikan ekspor gas dari Indonesia. Alasannya adalah, Indonesia masih membutuhkan uang dari ekspor gas tersebut.

Hal ini disampaikan oleh Jero Wacik, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). "Kenapa kita ekspor (gas)? Karena kita masih butuh uang masuk untuk pembangunan," kata Jero di acara 'Penandatanganan Perjanjian Jual Beli Minyak dan Gas' di kantornya ESDM, Jakarta, Rabu (26/12)

Dia bilang, bahwa harga jual gas untuk ekspor (pasar internasional) lebih mahal dibandingkan jika dijual dalam pasar dalam negeri. Jero memberi contoh; harga jual gas untuk ekspor adalah US$ 16-US$ 20 per MMBTU, sementara harga jual gas dalam negeri hanya US$ 11- US$ 12 per MMBTU.

"Bahkan harga gas untuk industri (domestik) kita jual US$ 7- US$ 8 per MMBTU," kata Jero. Sebelumnya Jero mengatakan, Indonesia masih kekurangan pasokan gas karena konsekuensi dari pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun.

Selain untuk kebutuhan industri, 46% alokasi gas domestik digunakan untuk memenuhi pembangkit listrik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×