kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   -50.000   -1,72%
  • USD/IDR 17.110   58,00   0,34%
  • IDX 7.308   28,38   0,39%
  • KOMPAS100 1.009   3,07   0,31%
  • LQ45 734   0,28   0,04%
  • ISSI 264   3,48   1,33%
  • IDX30 393   -5,78   -1,45%
  • IDXHIDIV20 480   -6,76   -1,39%
  • IDX80 114   0,27   0,24%
  • IDXV30 133   -1,18   -0,87%
  • IDXQ30 127   -1,85   -1,43%

Industri alas kaki masih tertekan tahun ini, bagaimana tahun depan?


Senin, 09 Desember 2019 / 20:23 WIB
ILUSTRASI. Perajin menyelesaikan produksi sepatu di sentra industri alas kaki Cibaduyut, Bandung, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/wsj.


Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Handoyo

Melansir data yang dilampirkan Aprisindo, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, upah minimum di Indonesia merupakan yang paling tinggi jika dibandingkan dengan China dan Vietnam. Kenaikan upah minimum  Indonesia dalam lima tahun terakhir sebesar 37,95% dibandingkan dengan China hanya 17,5% dan Vietnam sebesar 26%.

Firman bilang UMSK selama ini menjadi beban tambahan bagi industri alas kaki khususnya padat karya dan berorientasi ekspor. Menurutnya beban tersebut mengakibatkan industri tidak berdaya saing. 

Tak ayal jika sejumlah produsen alas kaki sedang mencoba mengalihkan produksi dari Banten ke Jawa Tengah karena melihat beban operasional yang lebih murah dibandingkan di Jabodetabek. 

Baca Juga: BI DKI Jakarta mencatat inflasi ibukota bulan November 2019 sebesar 0,19%

Firman mengungkapkan sebanyak 25 perusahaan dari Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur akan merelokasi pabriknya ke Jawa Tengah untuk  menambah kapasitas produksi. Kebanyakan pabrik yang pindah memang dari perusahaan asing. 

Namun, relokasi tidak akan dilakukan bersamaan tapi lepas bertahap. Beberapa masih menunggu kebijakan dari pemerintah, apakah akan mencabut UMSK atau tidak. 

Firman bilang upah tertinggi di Banten sebesar Rp 4,1 juta per orang dalam satu bulan untuk memenuhi UMK dan UMSK. Sedangkan di Jawa Tengah UMK di bawah Rp 2 juta per bulan.  

Baca Juga: Dinilai bisa menghambat ekspor alas kaki, Aprisindo tolak kenaikan UMSK tahun 2020

Jika pemerintah mendukung ini, ada opsi lain yang bisa diambil yakni perluasan pabrik untuk menambah kapasitas produksi. Adapun kalau izin investasi semakin kondusif dalam arti pemerintah memberikan kemudahan, industri alas kaki berorientasi ekspor akan tumbuh lebih baik.

Aprisindo berharap dengan pindahnya pabrik ke Jawa Tengah, bisa mengerek penjualan ekspor alas kaki. "Meski sudah pindah, belum bisa menggantikan nilai ekspor di Tanjung Priok," ujarnya.

Dengan selesainya transisi ini di 2020, Firman bilang industri alas kaki akan tumbuh sebesar 5% di tahun depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×