Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aktivitas Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik sejauh ini belum memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas industri baja di Provinsi Banten. Operasional pabrik dan rantai pasok industri baja masih berjalan normal.
Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), Harry Warganegara mengatakan, belum menerima laporan mengenai gangguan signifikan terhadap kegiatan produksi industri baja di Banten akibat peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
"Sejauh informasi yang kami terima, belum terdapat laporan mengenai gangguan signifikan terhadap aktivitas produksi industri baja di Banten akibat peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau maupun sebaran abu vulkanik. Kegiatan produksi pada umumnya masih berjalan normal," ujar Harry kepada Kontan, Selasa (8/9/2026).
Meski demikian, kondisi tersebut tetap perlu dipantau. Pasalnya, intensitas dan arah sebaran abu vulkanik dapat berubah sewaktu-waktu dan berpotensi mengganggu kegiatan operasional apabila aktivitas erupsi meningkat.
Baca Juga: Industri Baja RI Hadapi Tiga Lapis Hambatan Perdagangan Global
Dari sisi rantai pasok, IISIA juga belum menerima laporan gangguan besar terhadap operasional pabrik, distribusi bahan baku, pengiriman produk maupun aktivitas logistik industri baja.
Namun, abu vulkanik tetap berpotensi menghambat kegiatan logistik apabila mengganggu akses jalan, jarak pandang, aktivitas pelabuhan, serta transportasi darat dan laut.
"Pelaku industri terus memantau kondisi jalur distribusi dan menyesuaikan kegiatan logistik apabila diperlukan," jelas Harry.
Sementara itu, sejumlah langkah antisipasi mulai dilakukan pelaku industri. Salah satu produsen baja di Cilegon, misalnya, melakukan pembersihan area yang terdampak abu vulkanik serta mengukur konsentrasi debu menggunakan High Volume Air Sampler (HVAS).
Baca Juga: Kebutuhan Baja RI Diproyeksi 100 Juta Ton pada 2045, Utilisasi Industri Masih Rendah
Perusahaan juga menginstruksikan pekerja yang melakukan aktivitas di area luar ruangan untuk menggunakan masker. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kondisi lingkungan kerja sekaligus keselamatan pekerja selama paparan abu vulkanik masih berlangsung.
Pasokan dan harga
IISIA menilai kondisi saat ini belum memberikan dampak signifikan terhadap pasokan maupun harga baja di pasar domestik. Struktur rantai pasok dan sumber produksi industri baja yang cukup luas membuat gangguan di satu kawasan belum secara langsung memicu gangguan pasokan secara nasional.
Kendati demikian, risiko terhadap rantai pasok tetap terbuka apabila gangguan berlangsung dalam waktu lama dan berdampak terhadap produksi, distribusi maupun aktivitas pelabuhan.
Dalam kondisi tersebut, biaya logistik berpotensi meningkat dan memberikan tekanan terhadap rantai pasok industri baja. Dampaknya terhadap ketersediaan dan harga produk baja akan bergantung pada skala serta durasi gangguan.
"Apabila gangguan berlangsung cukup lama dan berdampak signifikan terhadap produksi, distribusi, atau aktivitas pelabuhan, maka dapat terjadi peningkatan biaya logistik dan tekanan terhadap rantai pasok," kata Harry.
Baca Juga: Industri Baja Nasional Masih Tertekan, Utilisasi Produksi Baru 52,7%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














