kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.918.000   -22.000   -0,75%
  • USD/IDR 16.859   17,00   0,10%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Industri Mamin Menuai Berkah Ramadan-Lebaran, Namun Daya Beli Konsumen Masih Tertekan


Selasa, 17 Februari 2026 / 15:09 WIB
Industri Mamin Menuai Berkah Ramadan-Lebaran, Namun Daya Beli Konsumen Masih Tertekan
ILUSTRASI. Konsumen berbelanja di ritel modern (KONTAN/Cheppy A. Muchlis) Industri makanan dan minuman (mamin) dinilai masih bakal menadah berkah dari momentum Ramadan dan Idulfitri pada kuartal pertama.


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seperti tahun-tahun sebelumnya, industri makanan dan minuman (mamin) dinilai masih bakal menadah berkah dari momentum Ramadan dan Idulfitri pada kuartal pertama. Meskipun, pelemahan daya beli diperkirakan masih berlanjut pada tahun ini.

Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Rifky mengatakan, kuartal yang mencakup bulan puasa dan Lebaran biasanya memiliki pertumbuhan ekonomi paling tinggi pada sepanjang tahun.

“Sektor mamin tentu menjadi salah satu penyumbang utama, mengingat pergerakannya yang meningkat selama periode Ramadan dan Lebaran,” kata dia saat dihubungi Kontan, Rabu (11/2/2026).

Di tengah tekanan kurs rupiah saat ini pun, menurut Riefky, industri mamin tak terlalu rentan. Sebab, walaupun struktur ongkos produksinya memiliki komponen impor, permintaan mamin disebut akan cukup kuat dan stabil. 

Baca Juga: Bidik Pertumbuhan Kinerja pada 2026, ACES Perluas Jaringan dan Perkuat Omnichannel

Riefky juga menilai tren konsumsi masyarakat pada kuartal I-2026 ini akan tetap ekspansif, meskipun pemerintah tetap perlu menjaga daya beli.

Menurutnya, untuk memulihkan daya beli seutuhnya, yang dibutuhkan tak sesederhana insentif dan subsidi, tetapi  diperlukan reformasi struktural.

“Insentif dan subsidi hanya akan memberikan dampak temporer, tetapi tidak akan menaikkan daya beli secara substansial,” ujar Riefky.

Setali tiga uang, Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, meskipun arus mudik dan mobilitas bakal meningkat di kuartal I-2026 ini, sektor rumah tangga kini dinilai lebih berhati-hati.

Menurut Yusuf, tekanan biaya hidup dan ketidakpastian global membuat konsumen lebih selektif. Dengan begitu, ia menilai konsumen akan cenderung memilih produk dengan lebih mempertimbangkan manfaatnya (value for money), alih-alih belanja produk premium.

“Maka, volume penjualan mamin masih akan naik, tetapi nilai transaksi dan margin industri tak setinggi tahun sebelumnya. Apalagi, stimulus fiskal tahun ini juga lebih terbatas,” imbuh Yusuf kepada Kontan, Kamis (12/2/2026).

Baca Juga: Unifam Tancap Gas Ramadan-Idulfitri, Produksi dan Distribusi Digenjot

Selanjutnya: Pangkas Hambatan Non-Tarif, IMF Perkirakan Ekonomi Indonesia Bisa Naik 4,1%

Menarik Dibaca: Cara Berbagi dan Mengatur Keuangan di Tahun Kuda Api ala Blu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×