kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Industri Manufaktur Mulai Adopsi AI, Investasi Bisa Tembus Miliaran Rupiah


Minggu, 23 Agustus 2026 / 18:39 WIB
Industri Manufaktur Mulai Adopsi AI, Investasi Bisa Tembus Miliaran Rupiah
ILUSTRASI. Pameran Percetakan (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku industri manufaktur mulai mendorong pemanfaatan artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi di tengah kondisi industri yang masih belum stabil.

Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmad Basuki mengatakan, kebutuhan investasi untuk mengadopsi AI di sektor manufaktur sangat bergantung pada skala industrinya.

"Untuk manufaktur kecil-menengah bisa jadi ratusan juta, sedangkan manufaktur skala besar sampai miliaran rupiah," kata Rachmad kepada Kontan, Minggu (23/8/2026).

Baca Juga: Menakar Daya Saing Industri Manufaktur Indonesia

Menurut dia, penerapan AI tidak hanya berpotensi meningkatkan produktivitas dan efisiensi proses produksi. Teknologi tersebut juga dapat membantu meningkatkan kualitas serta akurasi hasil produksi.

Rachmad menilai manfaat efisiensi dari penggunaan AI akan semakin terasa dalam jangka panjang. Ia mencontohkan industri manufaktur China yang semakin banyak memanfaatkan AI untuk meningkatkan daya saing di pasar global.

Meski demikian, penerapan AI di industri manufaktur Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah besarnya investasi awal yang harus dikeluarkan oleh perusahaan.

"Yang pertama investasi awal cukup besar. Untuk Indonesia dirasa masih sangat mahal jika dibanding dengan tenaga kerja manusia," ujarnya.

Menurut Rachmad, kondisi tersebut membuat adopsi AI lebih relevan diterapkan di negara-negara dengan biaya tenaga kerja yang tinggi dan populasi yang menua (aging population).

Baca Juga: Menakar Daya Saing Sektor Industri Manufaktur Indonesia

Di sisi lain, ia melihat penggunaan AI dalam skala besar juga berpotensi menimbulkan persoalan sosial, terutama terkait kebutuhan tenaga kerja.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut bahkan dapat mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan kebijakan perpajakan terhadap penggunaan AI.

Karena itu, menurut Rachmad, adopsi AI di industri manufaktur perlu mempertimbangkan aspek efisiensi sekaligus dampak sosial yang ditimbulkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×