Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri manufaktur masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia. Namun, di tengah target pemerintah meningkatkan kontribusi manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) hingga di atas 20%, daya saing industri nasional masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah.
Tantangan tersebut terlihat pada industri alas kaki, keramik dan baja. Ketiga sektor ini memiliki karakteristik berbeda, mulai dari ketergantungan terhadap tenaga kerja, energi hingga tekanan produk impor. Perbaikan kebijakan menjadi kunci agar industri nasional tak hanya bertahan di pasar domestik, tetapi juga mampu memperbesar penetrasi pasar global.
Pada industri alas kaki, misalnya, Indonesia masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan pangsa pasar ekspor. Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Antonius Joenoes Supit mengatakan, ekspor alas kaki Indonesia memang terus tumbuh, tetapi lajunya masih tertinggal dibandingkan negara pesaing.
Baca Juga: Ekspor Alas Kaki RI Tembus US$ 8 Miliar, Tapi Masih Jauh Tertinggal dari Vietnam
"Kalau kita bicara alas kaki, ekspor kita dari tahun ke tahun naik. Cuma dibandingkan dengan turnover ekspor dunia, persentase kita masih kecil," ujar Antonius kepada Kontan, Senin (17/8/2026).
Ia mencontohkan, ketika ekspor alas kaki Indonesia masih sekitar US$ 2 miliar per tahun, ekspor Vietnam baru berada di kisaran US$ 400 juta. Kini, ekspor alas kaki Vietnam telah mencapai sekitar US$ 26 miliar, sementara Indonesia sekitar US$ 8 miliar.
Menurut Antonius, peta industri alas kaki global terus bergeser mengikuti perubahan struktur biaya dan perkembangan ekonomi. Setelah berkembang di Jepang, industri ini berpindah ke Korea Selatan dan Taiwan, kemudian ke China, Thailand, Vietnam dan Indonesia.
Saat ini, Indonesia dan Vietnam menjadi pemain penting di industri alas kaki. Namun, Indonesia juga perlu mewaspadai India yang berpotensi menjadi pesaing baru.
"Potensi yang nantinya bisa mengambil peranan kita itu adalah India kalau kita tidak memperhatikan," katanya.
Antonius menilai industri alas kaki juga tidak tepat disebut sebagai industri sunset. Selain kebutuhan terhadap alas kaki yang akan terus ada, sektor ini memiliki peran penting dalam menyerap tenaga kerja.
Karena itu, menurut dia, pemerintah perlu menjaga iklim investasi dan konsistensi kebijakan. Hal tersebut penting karena struktur biaya industri alas kaki dan garmen sangat dipengaruhi tenaga kerja, dengan porsinya bisa mencapai sekitar 25%-30% dari biaya produksi.
Kepastian hukum, perizinan dan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) juga perlu diperbaiki. Antonius menilai proses perizinan harus sederhana dan memberikan kepastian tanpa mengabaikan aspek lingkungan.
Kebijakan ketenagakerjaan juga harus diarahkan untuk memperluas kesempatan kerja formal. Menurut Antonius, besarnya jumlah pekerja informal dan paruh waktu menunjukkan kebutuhan Indonesia terhadap industri padat karya masih tinggi.
"Jangan membuat undang-undang yang menutup peluang orang yang ingin bekerja tidak mendapat kesempatan," pungkasnya.
Keramik Mulai Pulih
Baca Juga: Unilever Dorong Inovasi di Bisnis Hair Care lewat Teknologi AI
Tantangan daya saing juga dihadapi industri keramik. Bedanya, sektor ini mulai menunjukkan pemulihan setelah utilisasi produksi meningkat dalam dua tahun terakhir.
Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto mengatakan, sejumlah kebijakan pemerintah turut menopang perbaikan kinerja industri. Di antaranya perpanjangan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), penerapan SNI wajib untuk keramik serta perpanjangan kebijakan safeguard.
Utilisasi produksi keramik nasional meningkat dari 65% pada 2024 menjadi 73% pada 2025. Pada 2026, ASAKI memperkirakan utilisasi bisa mencapai sekitar 75%.
Menurut Edy, peningkatan utilisasi terutama ditopang permintaan domestik. Sejumlah program pemerintah seperti pembangunan dan renovasi Sekolah Rakyat, gentengisasi, pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Koperasi Desa Merah Putih, renovasi rumah tidak layak huni hingga program pembangunan 3 juta rumah menjadi sumber permintaan baru.
Faktor energi juga menjadi penentu daya saing. ASAKI mengapresiasi penurunan harga regasifikasi LNG menjadi US$ 13 per MMBtu serta jaminan pasokan gas HGBT melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 281 Tahun 2026.
Meski begitu, ASAKI masih meminta perbaikan pasokan gas HGBT sesuai volume yang ditetapkan pemerintah. Jika pasokan energi lebih terjamin, ASAKI menargetkan utilisasi industri keramik pada semester II 2026 mencapai 75%-80%.
Perbaikan kinerja tersebut bahkan mulai membuka ruang investasi. Industri keramik menyiapkan investasi sekitar Rp 10 triliun pada 2026-2028 untuk menambah kapasitas produksi sekitar 105 juta meter persegi dan menyerap sekitar 7.500 tenaga kerja.
Baja Masih Tertekan Impor
Sementara itu, industri baja masih menghadapi persoalan utilisasi dan tekanan produk impor. Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan, pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi peningkatan permintaan baja.
Baja digunakan oleh berbagai sektor, mulai dari konstruksi, manufaktur, otomotif, energi, migas hingga pertambangan. Namun, permintaan dari konstruksi swasta dan properti masih tertahan oleh suku bunga, daya beli serta sikap investor yang lebih berhati-hati.
Akibatnya, kapasitas produksi baja domestik belum dimanfaatkan secara optimal. Berdasarkan kajian Kementerian Perindustrian yang dikutip IISIA, rata-rata utilisasi industri baja nasional baru sekitar 52,7%.
"Industri baja nasional memiliki kapasitas produksi yang cukup besar, namun utilisasinya masih belum optimal," ujar Harry.
Salah satu penyebabnya adalah tekanan produk impor di pasar domestik. IISIA mendorong pemerintah memperkuat tata kelola impor dan menciptakan level playing field bagi produsen domestik.
Jika ditemukan praktik perdagangan tidak sehat, pemerintah dinilai perlu mengoptimalkan instrumen trade remedies seperti antidumping dan safeguard.
Selain impor, biaya produksi juga menjadi tantangan. Harga energi dan bahan baku perlu dijaga agar tetap kompetitif. Kepastian pasokan gas melalui HGBT, energi dengan harga bersaing, penguatan rantai pasok serta penerapan SNI wajib menjadi sejumlah faktor penting untuk memperkuat daya saing.
Penyerapan baja domestik juga perlu diperbesar. IISIA mendorong peningkatan penggunaan produk baja nasional dalam proyek pemerintah dan Proyek Strategis Nasional (PSN), sepanjang memenuhi standar mutu dan spesifikasi teknis.
"Implementasi TKDN dan P3DN juga perlu ditingkatkan agar pembangunan nasional memberikan dampak berganda bagi industri domestik," kata Harry.
Bagi industri alas kaki, keramik dan baja, pembenahan faktor-faktor tersebut menjadi penentu apakah Indonesia mampu memperbesar pangsa pasar global sekaligus menjadikan manufaktur sebagai motor pertumbuhan ekonomi menuju kontribusi di atas 20% terhadap PDB.
Baca Juga: Pasar Mobil Bekas Masih Lesu Meski Penjualan Mobil Baru Naik
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
