kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.606.000   -27.000   -1,03%
  • USD/IDR 17.955   -57,00   -0,32%
  • IDX 6.188   79,57   1,30%
  • KOMPAS100 816   14,66   1,83%
  • LQ45 624   15,39   2,53%
  • ISSI 212   0,67   0,32%
  • IDX30 353   9,41   2,74%
  • IDXHIDIV20 440   11,64   2,72%
  • IDX80 93   1,81   1,98%
  • IDXV30 118   0,97   0,83%
  • IDXQ30 114   3,32   3,00%

Ini laporkan kinerja operasional SCG sepanjang 2019


Jumat, 31 Januari 2020 / 17:06 WIB
ILUSTRASI. Roongrote Rangsiyopash, President and CEO SCG (kanan) bersama Thammasak Sethaudom, VP Finance and Investment and CFO SCG (kiri)


Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Siam Cement Group (SCG) umumkan laporan operasional yang belum diaudit sepanjang 2019. Adapun pendapatan penjualan turun 8% secara year-on-year (YoY).

Presiden dan CEO SCG, Roongrote Rangsiyopash menyebutkan penurunan pendapatan tersebut disebabkan oleh penurunan harga bahan kimia. "Secara umum profit SCG pada tahun 2019 mencapai Rp 14,41 triliun," ujarnya dalam keterangan persnya, Jumat (31/1).

Baca Juga: PLN integrasikan data perpajakan dengan Ditjen Pajak Kemenkeu

Mengacu pada performa bisnis di area selain Thailand, SCG mencatatkan pendapatan sebesar Rp 81,01 triliun yang berkontribusi sebesar 41% dari total pendapatan penjualan. Sementara, per 31 Desember 2019 total aset SCG seluruhnya berjumlah Rp 292,07 triliun.

Khusus untuk pasar Indonesia, pendapatan penjualan SCG Q4/2019 mencapai Rp 5,06 triliun yang menandai peningkatan sebesar 36% YoY. Capaian tersebut didominasi oleh pendapatan dari bisnis kemasan (Fajar Paper). Sedangkan untuk total tahun 2019, pendapatan penjualan Indonesia mencapai Rp 15,86 triliun.

Roongrote menyatakan fluktuasi yang disebabkan oleh faktor eksternal telah memberikan dampak nyata pada bisnis SCG secara global. Hasilnya, pada tahun 2020, SCG mengembangkan strategi bisnis baru yang bertujuan untuk mengatasi disrupsi sembari mempertahankan kelanjutan pertumbuhan.

Baca Juga: Melihat prospek industri pendukung jasa konstruksi pada 2020

"Dengan rencana transformasi bisnis ini, tiga inti bisnis perusahaan akan bergeser dari manufaktur menjadi penyedia solusi dan layanan, yang secara keseluruhan menjawab kebutuhan konsumen yang beragam dan terus berubah seiring zaman," paparnya.

Lanjutnya, transformasi sumber daya manusia juga merupakan salah satu kekuatan utama SCG, yang mana perusahaan bervisi untuk terus menguatkan karyawannya dengan keahlian yang menjadikan para karyawan semakin memahami kebutuhan konsumen di berbagai daerah melalui penggunaan teknologi.

Dalam hal investasi, SCG akan terus menghadirkan solusi, produk, dan layanan dari 3 inti bisnisnya guna melayani konsumen dari seluruh kawasan di ASEAN. 

Dengan komitmen Passion for Better secara khusus SCG memfokuskan strategi bisnisnya di Thailand, Indonesia, dan Vietnam, sebagai pasar dengan potensi yang tinggi dan pertumbuhan yang menjanjikan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×