kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Insentif Berakhir di Tahun Ini, Harga Mobil Listrik Bakal Melonjak 2026


Senin, 22 September 2025 / 05:33 WIB
Insentif Berakhir di Tahun Ini, Harga Mobil Listrik Bakal Melonjak 2026
ILUSTRASI. Potensi kenaikan harga mobil listrik 20-30% di tahun 2026 karena insentif CBU berakhir Desember 2025. Pengamat: produksi lokal kunci utama!


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga mobil listrik alias electric vehicle (EV) pada 2026 bakal banyak bergantung pada kesiapan produksi dalam negeri oleh masing-masing pabrikan.

Keputusan pemerintah untuk tak memperpanjang pemberian insentif EV utuh atau completely built-up (CBU) yang dijadwalkan berlaku hingga Desember 2025 berpotensi mengerek harga jual mobil setrum impor ke depannya.

Sebagai gantinya, pabrikan wajib mempercepat realisasi produksi kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) di Indonesia. Pengamat otomotif Bebin Djuana menyebut, efisiensi produksi dalam negeri bakal menentukan harga jual.

“Kalau pabrik belum siap dan kendaraan masih harus didatangkan dari negara asal, konsumen harus siap membayar lebih mahal, sekitar 20%–30%,” ujar Bebin kepada Kontan, Minggu (21/9/2025).

Baca Juga: Insentif CBU Mobil Listrik Berakhir 2026, VinFast Siapkan Perakitan Lokal di Subang

Bebin menekankan bahwa kunci utama ada pada kesiapan masing-masing merek membangun lini produksi di Indonesia. Jika produksi lokal berjalan lancar dan efisien, harga jual bisa lebih kompetitif. 

Namun, jika efisiensi pabrik dalam negeri kalah dibanding negara asal, biaya tambahan pada akhirnya tetap akan dibebankan kepada konsumen.

“Konsumen akan dengan mudah menilai harga versus kualitas produk, termasuk ketersediaan suku cadang lokal. Kalau kualitas tak sebanding dengan harga, pasar pasti merespons,” tambahnya.

Bebin menilai, segmen pasar menengah ke bawah berisiko menjadi yang paling terdampak jika harga kendaraan listrik melonjak. Pasalnya, daya beli segmen ini belum menunjukkan pemulihan. 

Pun, pembangunan pabrik kendaraan listrik dalam negeri membutuhkan waktu yang cukup panjang. Karena itu, ia menilai pemerintah perlu memberi kelonggaran waktu agar produsen benar-benar siap memproduksi dengan standar setara negara asal. 

“Semata-mata agar pabrik di sini punya cukup waktu untuk mempersiapkan produk siap jual yang setara dengan negara asal,” pungkas Bebin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×