kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.546.000   5.000   0,32%
  • USD/IDR 16.209   -9,00   -0,06%
  • IDX 7.089   8,55   0,12%
  • KOMPAS100 1.052   4,07   0,39%
  • LQ45 825   2,91   0,35%
  • ISSI 211   0,74   0,35%
  • IDX30 424   1,43   0,34%
  • IDXHIDIV20 507   2,01   0,40%
  • IDX80 120   0,30   0,25%
  • IDXV30 124   0,34   0,27%
  • IDXQ30 140   0,37   0,26%

Kebutuhan garam industri 2016 naik 2,3 Juta ton


Kamis, 17 Desember 2015 / 18:51 WIB
Kebutuhan garam industri 2016 naik 2,3 Juta ton


Reporter: Adisti Dini Indreswari | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Niat pemerintah menekan impor garam industri mendapat tantangan. Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) memperkirakan kebutuhan garam industri pada 2016 meningkat menjadi 2,3 juta ton.

Proyeksi tersebut sejatinya hanya naik tipis dari kebutuhan garam industri tahun ini sebanyak 2,1 juta ton-2,2 juta ton karena perekonomian yang lemah. Adapun total kebutuhan garam nasional tahun ini, termasuk garam konsumsi rumah tangga, mencapai 3,6 juta ton.

Ketua Umum AIPGI Tony Tanduk bilang, ada dua perusahaan yang sudah menyampaikan kebutuhan garam industri untuk mendukung ekspansinya pada 2016, yaitu PT Asahimas Chemical sebanyak 850.000 ton dan PT Sulfindo Adiusaha sebanyak 500.000 ton.

Sayang, Tony mengaku belum menghitung proyeksi impor garam industri pada 2016. Namun dia memperkirakan kenaikan impor akan seiring dengan kenaikan kebutuhan. "Produksi garam rakyat saat ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan industri," ujar Tony dalam diskusi di Jakarta, Kamis (17/12).

Asal tahu saja, produksi garam lokal rata-rata hanya 1,7 juta ton per tahun. Tapi tidak seluruhnya memenuhi spesifikasi garam industri, yaitu kadar NaCl di atas 97%.

Ketua Bidang Pengembangan Teknologi Garam AIPGI Arthur Tanudjaja menambahkan, saat ini industri belum bisa memproses impor garam untuk memenuhi kebutuhan industri pada 2016 karena belum ada payung hukumnya.

Sekadar mengingatkan, pemerintah berencana mengubah sistem impor garam dari sistem kuota menjadi sistem tarif mulai 2016. Dus, nantinya siapa pun bisa mengimpor garam asal membayar tarif. Importir juga tidak perlu lagi rekomendasi dari Kementerian Perindustrian (Kemperin).

Menurut informasi yang sampai ke AIPGI, peraturan menteri (permen) yang mengatur sistem tarif ini baru akan terbit pada Januari 2016. Padahal, proses impor garam bisa memakan waktu satu bulan. AIPGI pun mengeluhkan lambatnya permen impor garam. "Saat ini industri farmasi sudah menjerit karena kekurangan bahan baku garam industri," ujar Arthur.

Sementara itu, pengamat ekonomi Faisal Basri bilang, di tengah pertumbuhan ekonomi yang melambat, seharusnya pemerintah menjaga keberlangsungan bahan baku garam untuk industri, mengingat besarnya kontribusi industri terhadap perekonomian.

Faisal juga berpendapat tidak mungkin ada garam industri yang merembes ke pasar garam konsumsi seperti kekhawatiran pemerintah selama ini. Alasannya, importir garam umumnya merupakan perusahaan besar. "Pemerintah seharusnya mudah mengawasi importir garam yang jumlahnya bisa dihitung, kebutuhannya pun mudah didata. Tidak mungkin mereka main-main," ujarnya.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan impor garam industri tahun ini berkurang 50% dari realisasi impor tahun lalu sebanyak 2 juta ton, atau menjadi 1 juta ton. Namun realisasi impor garam industri sampai dengan semester I-2015 sudah mencapai 1,5 juta ton.

Perinciannya, 1,1 juta ton untuk industri chlor alkali plant (CAP), 2.564 ton untuk industri farmasi, 55 ton untuk industri lainnya, dan 189 ton untuk PT Garam (Persero). Itu belum termasuk untuk industri aneka pangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Bond Voyage Mastering Strategic Management for Business Development

[X]
×