Reporter: Filemon Agung | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Demi mengejar target onstream di 2021 di tengah bayang-bayang keterlambatan proyek, PT Pertamina EP Cepu (PEPC) melakukan pemasangan absorber erection pada Proyek Jambaran Tiung Biru. Adapun, pemasangan ini dilakukan bersama Konsorsium PT Rekayasa Industri – Japan Gas Corporation – Japan Gas Indonesia (RJJ) pada Selasa (5/5).
Direktur Utama PEPC Jamsaton Nababan dalam keterangan resmi yang diterima Kontan.co.id menjelaskan, absorber erection berfungsi sebagai alat pemisah gas alam dengan H2S.
Baca Juga: Pertamina hapuskan batasan diskon pembelian BBM Pertamax Series
"Dengan tekad yang kuat dan kerja nyata, kita telah merampungkan pemasangan absorber di proyek ini, dan alat ini cukup penting bagi operasional GPF, karena gas yang dihasilkan akan diproses, dipisahkan dari unsur H2S," kata Jamsaton Nababan, Selasa (5/5).
Sekedar informasi, absorber sendiri adalah alat yang digunakan untuk proses absorbsi, yaitu proses penyerapan fluida gas oleh seluruh bagian zat cair sebagai absorben.
Jamsaton melanjutkan, dengan tinggi sekitar 62 meter dari permukaan tanah, absorber yang memiliki berat 550 ton akan dipasang dengan melakukan Pre Job Safety Meeting (PJSM) terlebih dahulu. Alat akan dipasang menggunakan Boom crane setinggi 90 meter, kapasitas 1350 ton dan 350 ton.
Sebelumnya, PEPC juga telah secara aman berhasil memasang Selexol Regenerator, yang merupakan alat untuk memisahkan gas asam seperti hidrogen sulfida dan karbondioksida pada 16 April 2020 lalu. Pemasangan alat-alat ini diklaim memberikan kemajuan dalam tahapan pengerjaan proyek.
Baca Juga: Semua pembeli Pertamax dapat cashback 30%, begini caranya
"Kami selangkah lebih maju lagi, untuk mencapai target on-stream pada tahun 2021. Terutama di masa pandemi COVID-19 ini, kami mohon doa masyarakat Indonesia agar Proyek JTB dapat segera operasi tepat waktu," ujar Jamsaton.
Dalam catatan Kontan.co.id, Vice President Legal & Relations PEPC Whisnu Bahriansyah mengungkapkan, saat ini seluruh rangkaian Drilling Campaign di JTB telah menyelesaikan tiga sumur. Whisnu bilang, pihaknya menargetkan proses pengeboran bisa selesai pada akhir tahun ini. Dengan begitu, target produksi gas tetap bisa dijadwalkan pada Juli 2021.
"Sehingga diharapkan siap mengalirkan gas ke Gas Processing Facility pada kuartal pertama 2021, sesuai dengan target dari Pemerintah," kata Whisnu dalam keterangan tertulisnya, April lalu.
Disisi lain, PEPC memutuskan memindahkan fabrikasi ke dalam negeri demi menjamin kelangsungan proyek Jambaran Tiung Biru (JTB) di tengah merebaknya virus corona di sejumlah negara.
Baca Juga: Kementerian ESDM tunda lelang wilayah kerja panas bumi tahun ini
Tak sampai disitu, demi menjaga keberlangsungan proyek PEPC juga memutuskan menggunakan tenaga inseptor berskala worldwide. Penggunaan tenaga inspektor ini akan membuat pengawasan berjalan lebih efektif sebab inspektor dapat langsung mengawasi jalannya fabrikasi pada sejumlah pabrik yang tersebar di beberapa negara
Asal tahu saja, Proyek JTB merupakan Proyek Strategis Nasional yang dilaksanakan oleh PEPC dan juga mitra kerjanya, RJJ. Di Lapangan JTB terdapat 6 sumur, yakni 4 sumur di Jambaran East dan 2 di Jambaran Central.
Dari sumur-sumur tersebut, PEPC menargetkan untuk memproduksi gas dan kondensat dengan produksi rata-rata raw gas sebesar 315 MMSCFD dan target gas on-stream pada 2021 dengan sales gas sebesar 192 MMSCFD.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News