Reporter: Leni Wandira | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persaingan produk impor, ketidakpastian pasokan bahan baku, hingga perubahan arus perdagangan global menjadi sejumlah persoalan yang perlu diantisipasi industri manufaktur nasional.
Di tengah kondisi tersebut, penguatan pasar domestik dan percepatan transformasi digital dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis serta meningkatkan daya saing industri.
Meski menghadapi berbagai tekanan, kinerja industri manufaktur Indonesia masih menunjukkan tren positif. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32% pada kuartal II-2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%.
Sektor ini juga menyumbang 16,83% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, menyerap hampir 20 juta tenaga kerja, serta berkontribusi 80,39% terhadap total ekspor Indonesia selama periode Januari-Agustus 2026.
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin Emmy Suryandari mengatakan, besarnya kontribusi industri pengolahan nonmigas terhadap perekonomian mencerminkan pentingnya sektor manufaktur dalam menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Baca Juga: Permintaan Kapal Melampaui Kapasitas, Samudera Indonesia (SMDR) Siapkan 9 Kapal Baru
“Artinya apa yang diekspor ini memang sesuatu yang sudah mengalami proses di dalam negeri, sudah ada value added yang diberikan. Ini yang harus kita jaga. Kami di Kementerian Perindustrian tidak bisa bekerja sendiri, pasti butuh support dari stakeholder lain, pemerintah daerah, dan asosiasi,” ujar Emmy dalam acara Industry Award Driving Sustainable Growth Through Excellence in Governance and Digital Transformation, Kamis (29/10/2026).
Dari sisi aktivitas manufaktur, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada September 2026 tercatat di level 52,4. Sementara itu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang diterbitkan Kemenperin berada di level 53,61 pada periode yang sama.
Kedua indikator tersebut masih berada di atas level 50 yang menandakan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi. Kendati demikian, pemerintah menilai masih terdapat sejumlah tantangan yang berpotensi menghambat keberlanjutan pertumbuhan sektor tersebut.
Emmy mengungkapkan, setidaknya ada tiga tantangan utama yang perlu menjadi perhatian pelaku industri.
Pertama, persoalan ketersediaan bahan baku, baik dari sisi volume pasokan, kualitas, maupun harga. Kepastian bahan baku menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kelancaran proses produksi dan daya saing industri.
Kedua, fenomena trade diversion atau pengalihan arus perdagangan sebagai dampak perubahan kebijakan tarif di berbagai negara. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan persaingan produk impor di pasar domestik.
Ketiga, perlindungan pasar dalam negeri. Dengan jumlah penduduk sekitar 285 juta jiwa, Indonesia memiliki potensi pasar domestik yang besar untuk menopang pertumbuhan industri manufaktur.
Baca Juga: Industri Manufaktur RI Masih Dibayangi Tekanan Impor
Saat ini, sekitar 78% kebutuhan pasar domestik telah dipenuhi oleh industri dalam negeri. Namun, produk lokal masih harus bersaing dengan produk sejenis dari luar negeri yang turut masuk ke pasar Indonesia.
“Pasar domestik kita cukup besar, 285 juta penduduk. Sebesar 78% saat ini sudah dipenuhi oleh industri dalam negeri. Akan tetapi produk-produk yang bisa diproduksi di dalam negeri ternyata tergerus pasarnya oleh produk sejenis dari impor. Sehingga perlindungan pasar dalam negeri menjadi faktor yang sangat penting,” jelasnya.
Selain memperkuat perlindungan pasar domestik, Kemenperin juga mendorong percepatan transformasi digital untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing manufaktur.
Hingga saat ini, sebanyak 13.549 industri telah menjalani penilaian Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0). Selain itu, sebanyak 204 manajer transformasi telah mengantongi sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), sementara jumlah perusahaan percontohan National Lighthouse 4.0 mencapai 29 perusahaan.
Emmy memaparkan, implementasi transformasi digital pada perusahaan National Lighthouse 4.0 telah memberikan dampak positif terhadap berbagai indikator bisnis.
Kecepatan perusahaan untuk masuk ke pasar meningkat hingga 60%. Sementara itu, produktivitas melalui efisiensi meningkat hingga 110%, sedangkan kinerja finansial mengalami peningkatan hingga 200%. Adapun tingkat kepuasan pelanggan bertambah sekitar 60%-70%.
Menurut Emmy, digitalisasi seharusnya dipandang sebagai investasi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing perusahaan, bukan sekadar pengeluaran untuk pengadaan teknologi.
Meski demikian, proses transformasi digital di sektor manufaktur masih menghadapi sejumlah kendala. Beberapa di antaranya adalah kesenjangan kompetensi digital sumber daya manusia, risiko keamanan siber, serta kesiapan organisasi dalam mengadopsi teknologi baru.
Sementara itu, CEO industrycoid Nandi Nanti menilai penguatan tata kelola perusahaan dan transformasi teknologi menjadi faktor penting bagi industri manufaktur dalam menghadapi tekanan global.
Baca Juga: Mark Dynamics (MARK) Ekspansi Bisnis Sanitari, Laba Naik 42,2% hingga September 2026
Ia menyoroti perkembangan PMI manufaktur Indonesia pada September 2026 yang mencapai level 52,4. Angka tersebut merupakan posisi tertinggi dalam tujuh bulan sejak Februari 2026, setelah indeks sempat mengalami kontraksi ke level 46,9 pada Juni 2026.
Menurut Nandi, membaiknya aktivitas manufaktur perlu diimbangi dengan upaya perusahaan dalam menjaga keberlanjutan bisnis. Penguatan tata kelola perusahaan dan transformasi digital menjadi bagian penting untuk memastikan industri mampu bertahan sekaligus meningkatkan daya saing di tengah perubahan lingkungan bisnis.
Hal tersebut juga menjadi salah satu pertimbangan dalam penyelenggaraan Industry Award 2026. Dalam proses penilaiannya, panitia menggunakan pendekatan desk research, media monitoring, dan expert judgement.
Dari total 200 perusahaan yang ditelaah, proses seleksi kemudian mengerucut menjadi 60 perusahaan. Adapun sejumlah aspek yang menjadi dasar penilaian meliputi performa bisnis, lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG), serta transformasi teknologi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













