Reporter: Leni Wandira | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri pariwisata nasional diperkirakan menghadapi tantangan berat sepanjang 2026 seiring meningkatnya tensi geopolitik global dan kenaikan biaya perjalanan udara. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memperlambat pertumbuhan sektor pariwisata tahun ini.
Pengamat Pariwisata sekaligus Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azhari mengatakan isu keselamatan dan keamanan kini menjadi perhatian utama wisatawan mancanegara di tengah konflik geopolitik dunia.
“Khusus keselamatan (safety) dan keamanan (security) baik bagi destinasi dan turis akan menjadi fokus bagi wisman,” ujar Azril kepada Kontan, Rabu (20/5/2026).
Baca Juga: Habis pada Mei 2026, Weda Bay Nickel Tunggu Tambahan Kuota Produksi dari Revisi RKAB
Menurut dia, Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar menarik wisatawan asing karena dinilai relatif aman dibanding sejumlah kawasan lain yang tengah mengalami konflik. Namun peluang tersebut dinilai belum dimanfaatkan optimal sebagai strategi promosi internasional.
“Seharusnya dengan adanya publikasi media global bahwa Indonesia adalah tempat yang teraman, namun sayang kurang dimanfaatkan pemerintah untuk promosi bagi wisman,” katanya.
Selain faktor geopolitik, Azril menilai kenaikan harga tiket pesawat menjadi tantangan serius bagi pergerakan wisatawan nusantara. Ia menjelaskan harga avtur memberikan kontribusi sekitar 30%-40% terhadap harga tiket pesawat.
“Kenaikan harga tiket yang disebabkan oleh kenaikan harga avtur menjadi kendala bagi wisnus,” ujarnya.
Menurut Azril, kebijakan pemerintah memberikan fasilitas pajak berupa PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk avtur melalui PMK Nomor 24 Tahun 2026 memang dapat membantu meredam lonjakan harga tiket. Namun kebijakan tersebut dinilai belum cukup karena hanya berlaku selama 60 hari.
Baca Juga: Kemenpar Waspadai Dampak Geopolitik Timur Tengah terhadap Wisatawan Asing
Di sisi lain, pemerintah juga telah menetapkan penyesuaian fuel surcharge penerbangan domestik hingga maksimal 50% dari tarif batas atas mulai Mei 2026 akibat lonjakan harga avtur.
Azril menilai kondisi tersebut membuat harga tiket pesawat domestik semakin mahal, apalagi harga avtur Indonesia disebut masih menjadi salah satu yang tertinggi di kawasan ASEAN.
“Sehingga harga tiket semakin tinggi, yang sebelum eskalasi geopolitik saja harga avtur Pertamina adalah tertinggi di ASEAN,” katanya.
Ia memperkirakan kondisi global saat ini akan berdampak terhadap perlambatan pertumbuhan sektor pariwisata nasional sepanjang 2026.
“Akan terjadi melambatnya pertumbuhan sektor pariwisata,” ujar Azril.
Selain faktor global, ketidakjelasan aturan turunan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2025 tentang perubahan UU Kepariwisataan juga dinilai membuat pemerintah daerah kesulitan menyusun strategi pengembangan pariwisata.
Baca Juga: Pemerintah Genjot Pariwisata Jadi Mesin Pertumbuhan, Targetkan Devisa US$ 39,4 Miliar
“Belum jelasnya turunan UU seperti PP dan Permen membingungkan pemda guna membangun strategi dan kebijakan pariwisata di daerahnya,” katanya.
Azril juga melihat perubahan pola konsumsi wisatawan akan terjadi pada tahun ini. Menurut dia, wisata lokal dalam lingkup provinsi atau kabupaten diperkirakan tetap bertahan, sementara perjalanan wisata antar pulau dan wisatawan mancanegara menjadi segmen yang paling rentan tertekan.
“Yang akan bertahan adalah wisata lokal dalam provinsi atau kabupaten, sedangkan yang rentan adalah wisman dari luar negeri dan wisnus antar pulau,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













