kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.765.000   -24.000   -0,86%
  • USD/IDR 17.676   -60,00   -0,34%
  • IDX 6.319   -52,18   -0,82%
  • KOMPAS100 832   -10,94   -1,30%
  • LQ45 631   -4,14   -0,65%
  • ISSI 225   -2,77   -1,22%
  • IDX30 360   -1,39   -0,38%
  • IDXHIDIV20 449   1,48   0,33%
  • IDX80 96   -1,08   -1,12%
  • IDXV30 124   -0,84   -0,68%
  • IDXQ30 118   0,53   0,46%

PHRI Waspadai Dampak Geopolitik dan Harga Tiket Pesawat terhadap Pariwisata 2026


Rabu, 20 Mei 2026 / 21:25 WIB
PHRI Waspadai Dampak Geopolitik dan Harga Tiket Pesawat terhadap Pariwisata 2026
ILUSTRASI. Maskapai diberikan keleluasaan tentukan tarif tiket (ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mewanti-wanti dampak konflik geopolitik global dan kenaikan biaya perjalanan terhadap industri pariwisata nasional pada 2026. 

Meski kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada kuartal I-2026 masih mencatat pertumbuhan, pelaku industri menilai tantangan akan semakin berat pada kuartal II tahun ini.

Sekretaris Jenderal PHRI, Maulana Yusran mengatakan pada awal tahun ini sektor pariwisata masih terbantu kondisi geopolitik yang belum terlalu memanas serta harga avtur yang relatif stabil.

“Kalau kita perhatikan di kuartal I 2026 itu memang dibandingkan dengan kuartal I 2025 terjadi pertumbuhan wisatawan mancanegara kita,” ujar Yusran kepada Kontan, Rabu (20/5/2026).

Namun menurut dia, situasi pada kuartal II mulai berubah seiring memanasnya konflik di Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga avtur global dan biaya perjalanan wisata.

Baca Juga: Kemenpar Waspadai Dampak Geopolitik Timur Tengah terhadap Wisatawan Asing

“Harga avtur itu kan tidak meningkat hanya di Indonesia saja, tapi seluruh dunia. Dampaknya adalah peningkatan biaya perjalanan atau cost of travelling,” katanya.

Selain itu, PHRI juga menyoroti gangguan frekuensi penerbangan dari kawasan Timur Tengah yang dapat memengaruhi arus wisatawan asing ke Indonesia.

“Frekuensi penerbangan untuk yang berada di Timur Tengah itu sering terganggu sebagai dampak konflik,” ujarnya.

Karena itu, PHRI menilai pemerintah perlu memperkuat pasar wisatawan dari kawasan Asia yang tidak terlalu terdampak jalur penerbangan Timur Tengah.

“Tentu yang harus kita kejar itu wilayah-wilayah Asia, pasar-pasar yang lebih dekat yang tidak melalui Timur Tengah,” katanya.

Dari sisi destinasi, Bali masih menjadi penopang utama pertumbuhan okupansi hotel sepanjang kuartal I-2026. Menurut PHRI, berbagai program pemerintah yang berfokus ke Bali membuat daerah tersebut tetap mendominasi pasar wisatawan asing.

“Kalau kita bicara kuartal I itu yang menopang pertumbuhan okupansi pasti Bali,” ujarnya.

Selain Bali, Pulau Jawa juga menjadi motor utama perjalanan wisata domestik karena aktivitas ekonomi dan pembangunan yang lebih masif dibanding wilayah lain.

Meski demikian, PHRI menilai industri hotel dan restoran saat ini masih sangat bergantung pada pasar business traveler atau perjalanan bisnis, baik dari korporasi swasta maupun pemerintah.

Baca Juga: Pemerintah Genjot Pariwisata Jadi Mesin Pertumbuhan, Targetkan Devisa US$ 39,4 Miliar

“Jujur saja sebenarnya market terbesar kita adalah market korporasi,” kata Maulana.

Menurut dia, segmen tersebut sempat tertekan akibat kebijakan efisiensi pemerintah sejak akhir 2025 yang berdampak pada penurunan aktivitas perjalanan dinas dan kegiatan korporasi.

PHRI mencatat kinerja industri hotel pada 2025 mengalami kontraksi sekitar 3,9%. Kondisi itu membuat proses pemulihan pasca pandemi Covid-19 belum sepenuhnya terjadi.

“Pada 2026 ini kita berharap paling tidak bisa tumbuh 5 persen saja sudah Alhamdulillah,” ujarnya.

Namun harapan tersebut kini dibayangi tantangan baru mulai dari efisiensi belanja pemerintah, konflik geopolitik, kenaikan harga energi, hingga pelemahan rupiah yang ikut mendorong kenaikan harga tiket pesawat.

PHRI menilai kondisi tersebut berpotensi menekan mobilitas wisatawan, terutama untuk destinasi di luar Jawa yang membutuhkan biaya perjalanan lebih tinggi.

Karena itu, PHRI mendorong pemerintah memperluas pemerataan pariwisata nasional agar tidak hanya bertumpu pada Bali dan Pulau Jawa.

“Bagaimana mengembangkan pariwisata itu tidak terfokus hanya Bali. Daerah lain juga harus dilihat,” tutup Maulana.

Baca Juga: Tiket Pesawat Mahal, PHRI Waspadai Okupansi Hotel Turun 3%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×