kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Kimia Farma (KAEF) kembangkan gerai khusus di kawasan wisata


Selasa, 19 November 2019 / 19:52 WIB
Kimia Farma (KAEF) kembangkan gerai khusus di kawasan wisata
ILUSTRASI. PT Kimia Farma (Persero) Tbk atau Kimia Farma meluncurkan aplikasi mobile bernama Mediv.

Reporter: Amalia Fitri | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Emiten berpelat merah yang bergerak di sektor farmasi, PT Kimia Farma Persero Tbk (KAEF) berencana mengembangkan gerai berkonsep traveler store untuk melayani kebutuhan wisatawan domestik maupun luar negeri.

Gerai ini, nantinya akan menyediakan produk-produk kosmetik, perawatan kulit, hingga suplemen kesehatan.

Baca Juga: Tinggal Urusan Legal Administrasi, Holding BUMN Farmasi Meluncur Akhir 2019

"Gerai traveler store ini, menyasar turis domestik maupun luar negeri. Di dalamnya akan ada produk-produk kosmetik, skincare, personal care, hair care, dan suplemen kesehatan yang di butuhkan para wisatawan," jelas Ganti Winarno kepada Kontan, Selasa (19/11).

Lebih lanjut, KAEF rencananya akan membuka gerai berkonsep Health & Beauty ini, di kawasan wisata lainnya, seperti Bandung, Yogyakarta, Malang, dan Jakarta.

Sebagai informasi, KAEF telah mengoperasikan dua gerai Health & Beauty yang berlokasi di Surabaya dan Cibubur. Ke depannya, mereka akan membuka gerai ketiga di Seminyak, Bali. Rencananya, 10 gerai health and beauty ini akan dibuka di beberapa kota besar di Indonesia.

Tahun ini, KAEF menargetkan akan membuka 1.276 gerai apotek, dan hingga saat ini total gerai yang dimiliki sudah berjumlah 1.269 apotek.

Dalam catatan Kontan, KAEF biasanya menggelontorkan dana sebesar Rp 1 sampai Rp 2 miliar di luar harga sewa untuk pembukaan satu gerai. Sementara alokasi ekspansi gerai di tahun 2019, ditetapkan berada di angka Rp100 miliar.

Baca Juga: Holding BUMN farmasi masih tunggu penetapan akta inbreng

Menilik dari laporan keuangan kuartal III 2019, KAEF mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 30,95% menjadi Rp 6,1 triliun. Sampai akhir tahun ini, pihaknya membidik pertumbuhan 45% atau setara Rp 11,5 triliun dibandingkan tahun lalu.

Namun begitu, laba bersih KAEF menurun hingga 81,45%, menjadi hanya Rp41,83 miliar dari sebesar Rp225,45 miliar tahun lalu.

Berdasarkan data keterbukaan informasi Bursa Efek, penurunan laba bersih ini disebabkan oleh penurunan penjualan obat generik hingga 13% menjadi Rp1,11 triliun dari Rp1,27 triliun secara tahunan.

Pada segmen penjualan obat ethical dan lisensi, perseroan mencatat kenaikan penjualan sebesar 7,55% menjadi Rp 743,20 miliar, dari Rp 691,01 miliar di tahun lalu.

Jumlah aset, ekuitas, dan liabilitas KAEF meningkat masing-masing di atas 50%. Aset KAEF berada di angka Rp17,862 triliun dari Rp 11,329 triliun. Lalu, ekuitas berjumlah Rp 7,906 triliun dari Rp 4,146 triliun.

Sementara liabilitas naik sebesar 38,61% menjadi Rp9,95 triliun, dari Rp7,18 triliun dibandingkan alhir 2018.

Ganti Winarno menjelaskan dalam laporan keterbukaan, peningkatan piutang usaha sebesar 97,77%, dari Rp1,32 triliun kuartal III 2018, menjadi Rp2,62 triliun pada kuartal III 2019, diakibatkan pola bisnis perseroan di mana pembayaran piutang dari pelanggan akan dilakukan di kuartal IV.

Baca Juga: Indofarma (INAF) incar peluang bisnis alat kesehatan di 2020

"Salah satu piutang yang meroket pada kuartal III-2019 berasal dari BPJS Kesehatan. Kimia Farma tercatat memiliki piutang dari BPJS Kesehatan senilai Rp219,95 miliar, naik 1.575% dibandingkan dengan periode 31 Desember 2018 sebesar Rp13,12 miliar," jelasnya sebagaimana tertera dalam keterangan resmi.

Alasan kedua adalah karena adanya peningkatan persediaan sebesar Rp755 miliar atau 35,51% karena adanya persediaan yang belum tercairkan penggunaannya untuk triwulan IV 2019.

Penyenan ketiga adalah, adanya peningkatan aset tetap sebesar Rp5,66 triliun sebagai dampak dari perubahan metode penilaian aset tetap tanah dari metode harga perolehan menjadi metode fair value.

"Terakhir, adanya peningkatan utang bank sebesar Rp2,77 triliun atau 57,10%, serta pencairan Medium Term Notes (MTN) untuk mendanai kegiatan operasional entitas dan dalam rangka akuisisi PT Phapros Tbk," lanjutnya.

Baca Juga: Tekan biaya operasional, Indofarma (INAF) masih merugi

Dengan begitu, aset perseroan mengalami kenaikan sebesar 57,67% menjadi Rp17,86 triliun, dari Rp11,32 triliun dibandingkan akhir 2018.


Tag


TERBARU

Close [X]
×