kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.770.000   11.000   0,40%
  • USD/IDR 18.046   -27,00   -0,15%
  • IDX 5.595   -245,02   -4,20%
  • KOMPAS100 736   -35,18   -4,56%
  • LQ45 558   -23,17   -3,99%
  • ISSI 195   -8,81   -4,33%
  • IDX30 316   -12,58   -3,83%
  • IDXHIDIV20 392   -14,84   -3,65%
  • IDX80 84   -3,56   -4,08%
  • IDXV30 107   -4,76   -4,28%
  • IDXQ30 102   -3,95   -3,72%

Kuota Bijih Nikel Dipangkas, Utilisasi Smelter RI Turun Jadi 76%


Jumat, 05 Juni 2026 / 19:42 WIB
Kuota Bijih Nikel Dipangkas, Utilisasi Smelter RI Turun Jadi 76%
ILUSTRASI. Smelter mineral (Dok/dss+)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Pemangkasan kuota produksi bijih nikel oleh pemerintah mulai berdampak pada kinerja industri pengolahan nikel nasional.

Asosiasi Industri Nikel Indonesia (FINI) mencatat, tingkat utilisasi kapasitas smelter rotary kiln electric furnace (RKEF) turun menjadi 76% pada tahun ini, dari 84% pada tahun lalu.

Baca Juga: AFI: Jumlah Waralaba Lokal Tak Bertambah Signifikan, Merek Asing Masih Mendominasi

Melansir Reuters, Ketua FINI Arif Perdana Kusuma mengatakan, penurunan utilisasi terjadi setelah pemerintah memangkas kuota produksi bijih nikel 2026 menjadi 260 juta hingga 270 juta ton.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi produksi bijih nikel tahun lalu yang mencapai 320 juta ton serta berada di bawah estimasi kebutuhan industri yang mencapai 340 juta hingga 350 juta ton per tahun.

"Beberapa lini produksi di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah pada dasarnya mengurangi produksi hingga di bawah 50% kapasitas," ujar Arif dalam Indonesia Critical Mineral Conference, Jumat (5/6/2026).

Baca Juga: ICX 2026 di Surabaya Bukukan Transaksi Lebih dari Rp 3 Miliar &Gaet 16.500 Pengunjung

Menurut Arif, sejumlah smelter memilih tetap beroperasi dengan kapasitas lebih rendah dibandingkan menghentikan operasi tungku sepenuhnya.

Pasalnya, proses penghentian dan pengaktifan kembali tungku membutuhkan biaya besar dan waktu berbulan-bulan.

Pemerintah sebelumnya memutuskan memangkas kuota produksi bijih nikel sebagai respons atas kondisi kelebihan pasokan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir dan menekan harga nikel global.

Baca Juga: Antusiasme Tinggi, Transaksi Indonesia Coffee Expo 2026 Surabaya Tembus Rp 3 Miliar

Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Septian Hario Seto mengatakan, kebijakan pengendalian produksi diperlukan untuk menjaga keseimbangan pasar.

"Kalau produksi tidak dikendalikan, saya pikir pada 2026 kita akan menciptakan surplus terbesar dalam sejarah pasar nikel," ujar Seto.

Kekhawatiran terhadap pasokan dari Indonesia sempat mendorong harga nikel di London Metal Exchange (LME) menyentuh US$ 20.000 per ton pada 6 Mei 2026, level tertinggi sejak Mei 2024.

Meski demikian, Seto menilai kisaran harga US$ 18.000-US$ 20.000 per ton merupakan level ideal bagi industri nikel Indonesia.

"Kami ingin melihat harga bergerak di kisaran tersebut. Kami tentu tidak berharap harga nikel melonjak jauh di atas US$ 20.000 per ton karena hal itu juga akan menimbulkan masalah bagi pengguna akhir nikel," katanya.

Baca Juga: Midi Utama Indonesia (MIDI) Kejar Pertumbuhan Moderat di Tengah Pelemahan Rupiah

Sementara itu, Weda Bay Nickel, unit usaha perusahaan tambang Prancis Eramet di Indonesia, telah menghentikan produksi bijih nikelnya setelah kuota produksi perusahaan habis pada akhir Mei lalu.

Perusahaan berencana mengajukan tambahan kuota produksi kepada pemerintah.

Kebijakan pengendalian produksi bijih nikel ini menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga stabilitas harga komoditas sekaligus menghindari tekanan berlebih akibat kelebihan pasokan di pasar global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×